|TERBARU     /fa-fire/_$type=slider$sn=hide$cate=0$show=home$va=0$d=0$cm=0

Manusia yang Manusiawi

Dapatkah setiap macam perbuatan membawa kita ke arah tujuan akhir kita? Bila kita menjawab: ya, berarti tidak ada perbedaan antara hal yang benar dan hal yang salah.


oleh Chew Kong Giok


GENTAROHANI.COM — Kita telah tahu bahwa manusia mengejar tujuan akhir adalah kebahagiaan tertinggi dengan memiliki jalan Suci Tian yakni Iman.

Jalan yang harus ditempuh adalah jalan yang mengikuti Xing, jalan yang sesuai dengan sifat manusia yang manusiawi. Sifat kemanusiaan manusia adalah berbuat mengikuti Xing. Xing adalah benih-benih kebajikan yang ditanamkan pada Tian sebagai hukum atau kodrat manusia. Benih-benih ini wajib dijaga, dirawat dan dipelihara sehingga tumbuh, berkembang, berbunga dan berbuah. Tentu saja tiap orang mendapatkan hasil yang berbeda-beda. 

Beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan seseorang dalam menjaga dan memerlihara Xing ini adalah:
1. Faktor bawaan (genetika)
2. Lingkungan keluarga
3. Karakter kepribadiannya
4. Lingkungan Sosial
5. Pendidikan formal
6. Minat dan niat diri pribadi


Dapatkah setiap macam perbuatan membawa kita ke arah tujuan akhir kita? Bila kita menjawab: ya, berarti tidak ada perbedaan antara hal yang benar dan hal yang salah. Selanjutnya tidak diperlukan lagi agama atau kesusilaan. Karena dalam realitas hidup , berdasarkan pengalaman, kita tidak suka kepada orang yang berkelakuan buruk atau jahat, dan sebaliknya kita senang dan suka jika diperlakukan dengan baik, diperlakukan dengan manusiawi, dihormati, dicintai, diperhatikan dsb. Ini membuktikan bahwa manusia suka pada kebajikan. 

Adalah benar jika manusia ada yang perbuatannya salah. Manusia sebagai mahluk mulia, yang berharkat martabat tinggi dituntut oleh Sang pencipta untuk membimbing dirinya sendiri ke arah tujuan akhir. Dengan bekal yang sudah dikaruniakan Tian kepada manusia. Juga manusia diberi kebebasan kehendak untuk memilih, mau taat atau mau menentang? Yang taat menjalankan akan menerima akibatnya, demikian juga yang menentang akan menerima akibatnya. Perbuatan yang benar akan menuntun kepada tujuan akhir dan perbuatan yang salah tidak akan membawa kita pada tujuan akhir. Tidak semua jalan yang dapat membimbing kita pada tujuan akhir, jika banyak jalan Tian tidak perlu memberi Xing pada manusia, sebagai panduan manusia dan manusia tidak perlu melakukan pemilihan, sebab semua jalan sama saja dapat membimbing ke tujuan akhir. 

Dalam agama Ru, orang yang tahu dan mengerti Firman Nya dinamai seorang Junzi, seorang Junzi adalah seorang manusia yang bermoral, yang bisa membedakan mana perbuatan yang benar dan mana perbuatan yang buruk. Jadi seorang Junzi adalah seorang manusia yang memandang perbuatan sebagai yang dipengaruhi pengertian dan tekad imannya. Juga dipengaruhi , dikondisikan, oleh latar belakangnya, genetika, keluarga, sosial, pendidikan dst.
‘Barang siapa yang tidak mengenal Firman, ia tidak dapat menjadi seorang Junzi.’ (Sabda Suci XX : 3)
Yang menjadi pertanyaan apakah perbuatan seseorang itu sesuai atau tidak sesuai dengan Xing-nya sendiri? Apakah hakekat dari perbuatan-perbuatan itu sendiri? Apakah perbuatan-perbuatan itu mempunyai kualitas benih-benih kebajikan dalam Xing yang hakiki?

Bagi seorang Junzi, yang penting perbuatannya dilakukan kerena dia tahu, mengenal dan mengerti Xing, dan secara jujur, tulus hati berkehendak untuk taat lurus pada panggilan Xing hati nuraninya. Proses seperti itu terjadi di dalam rohani pribadinya, hanya diri pribadinya yang tahu, orang lain tidak tahu, orang lain hanya bisa menilai perbuatannya. Maka bisa dikatakan sebagai perbuatan seorang Junzi intrinsik, artinya ia taat mengikuti hukum-hukum dalam hati nuraninya. Berbeda dengan ketaatan pada hukum-hukum positip yang eksrinsik, taat oleh peraturan dari luar pribadinya. Bagi seorang Junzi baik intrinsik maupuin ekstrinsik, kedua-duanya wajib ditaati. 

Sebaliknya, seorang Xiao Ren (tidak bermoral), mungkin taat pada hukum positip, tetapi ketaatannya belum tentu merupakan kehendak sendiri, belum tentu hatinya tulus atau suka pada hukum positip ini, ketaatannya hanya karena takut pada sanksi. Bahwasanya terdapat moralitas ekstrinsik, semua orang bisa setuju karena tidak ada orang yang dapat menolak kenyataan bahwa hukum positip, bagaimanapun benar-benar ada, seperti undang-undang, peraturan pemerintah, hukum negara, hukum tertulis dan hukum yang tak tertulis, atau hukum adat. Di sini tidak membicrakan tentang perbedaan antara intrinsik dan ekstrinsik. 

Yang dibahas disini adalah tentang hukum intrinsik yang diperintahkan oleh Tian sebagai hukum kodrat. Bagi seorang Xiao Ren atau orang yang tidak bermoral, ketaatan pada hati nuraninya masih diragukan. Dalam Ru hanya membedakan dua hal yaitu tentang seseorang yang mentaati perintah Tian dinamakan Junzi, dan yang tidak taat atau menentang perintah Tian dinamakan Xiao Ren.
率性shuài xìng = perbuatan mengikuti Xing, mentaati perintah Xing atau taat mengikuti komando Xing. (Lihat Tengah Sempurna U : 1)
Banyak orang yang beranggapan bahwa agama Khonghucu bukan agama tetapi sekedar adat istiadat atau kebiasaan. Apakah kita tahu bagaimanakah asal mulanya muncul adat istiadat? Adat istiadat munculnya kerena perbuatan yang sama, yang diulang dengan cara yang sama. Mengapa perbuatan itu diulang? Oleh karena pada awal mulanya menjalankan perbuatan tersebut mereka menemukan perasaan menyenangkan atau berguna. Dan mereka menghendaki hal tersebut kembali terulang. Pada mulanya manusia mengulang perbuatan-perbuatan tertentu tidaklah karena mereka telah mengerjakannya bukan hanya satu dua kali saja, tetapi untuk suatu manfaat tertentu, sampai adat istiadat itu terbentuk. 

Adat itu sendiri bukanlah sumber dari perbuatan. Nilai adat dan kebiasaan adalah sebagai sesuatu yang diwariskan turun temurun kepada geneasi mendatang dalam bentuk yang sudah siap pakai atau ready made, yakni suatu kumpulan pengalaman yang berguna dan bermanfaat dari leluhur dan orang-orang tua. Sebagai hubungan sejarah dengan masa lalu, sebagai semen kelangsungan budaya, adat istiadat adalah tiang penyokong setiap bentuk peradaban. Suatu adat istiadat yang berdasar pada hakekat kemanusiaan, yang menjaga memelihara moral akan mampu bertahan abadi, tetapi jika dasarnya hanya suatu kepentingan penguasa/tokoh/kepala suku/sesepuh bukan pada kemanusiaan, suatu saat akan hilang. 

Adat yang bertentangan dengan hakekat kemanusiaan menjadi penghalang kemajuan. Yang merugikan dan tidak bermanfaat bagi masyarakat. Seringkali pesan nilai-nilai suatu adat tidak dipahami maksudnya, mereka sekedar menjalankan dan menjalankan. Manusia terus menerus mengikuti dan mentaati upacara-upacara tertentu meskipun tidak tahu arti dan maksudnya suatu pesan adat atau kebiasaan. Manusia terus menjalankan perbuatan tersebut tanpa mengerti mengapa ia berbuat demikian. Tradisi dapat dengan demikian kuat pengaruhnya sehingga orang terus saja berkerras kepala menjalankan sesuatu dengan cara yang tidak menghemat dan menentang akal sehat. Meskipun ia telah tahu bahwa itu tidak masuk akal, ia tidak bisa meninggalkan pola tingkah laku yang telah demikian menjadi biasa.
‘Menjalankan tetapi tidak mengerti maksudnya, berkebiasaan tetapi tidak mau meneliti, sepanjang hidfup mengikuti tetapi tidak mengenal Jalan Suci, begitulah kebanyakan orang.’ (Menczi VII A : 5)
Adat istidat atau kebiasaan adalah perbuatan yang biasa dilakukan dan berulang-ulang, adat istiadat selama bersumber dari fundamental kemanusiaan akan tetap bisa bertahan, kecuali dengan kekerasan atau paksaan penguasa. Atau oleh propaganda terus menerus yang mendiskreditkan suatu adat, walaupun adat itu baik dan berguna bagi pelaku maupun kehidupan sosialnya, tetap saja dengan tekanan, cepat atau lambat akan hilang. Terdapat adat kebiasaan yang tidak pernah dapat diubah. Makan minum dan bernapas adalah adat kebiasaan, orang tidak dapat hidup tanpa keduanya. Bercakap-cakap dan bertukar pikiran adalah adat kebiasaan, hanya orang yang tidak waras yang melarangnya. Musik dan ekspresi seni adalah adat kebiasaan. Hanya mental yang tidak beres yang mau menghancurkannya secara total. Sebabnya adalah karena semua itu bukan adat kebiasaan semata, tetapi berdasar atas tuntutan-tuntutan fisik, mental, dan emosi manusia. 

Contoh-contoh di atas termasuk bidang kemanusiaan, dari sana kita bisa menarik kesimpulan yang sama dalam bidang keagamaan yang menyangkut moralitas kemanusiaan juga. Menghormati hidup dan menghormati milik orang lain, berbakti pada orangtua, menyayangi anak-anaknya, berkata benar, setia kawan, dapat dipercaya, menepati janji, membayar hutang, menolong orang lain dalam kesusahan dan lain-lain, adalah merupakan adat kebiasaan manusia juga. Tetapi semuanya itu bukan sekedar adat kebiasaan semata. Memang manusia bisa menolak semuanya itu dan berbuat sebaliknya, tetapi jelas bahwa ini berarti berakhirnya hidup manusia dan berakhirnya kehidupan masyarakat. 

Tidak ada hak milik, tidak ada istri, tidak ada suami, tidak ada anak, tidak ada masyarakat, tidak ada kawan, tidak ada perdagangan, tidak ada janji, dan tidak akan ada orang bisa hidup sampai jadi dewasa, tidak ada lagi generasi mendatang. 

Di sini hanya ingin menyatakan bahwa ada adat istiadat yang tidak dapat dihapus, karena menyangkut hakekat hidup hakekat kemanusiaan. Jadi suatu adat kebiasaan dilakukan, diulang dan diulang, di sini ingin menyatakan bahwa bagaimanakah seseorang hendaknya hidup kalau ingin dnyatakan sebagai manusia. 

Maka adat istiadat yang baik dan telah menjadi kebiasaan, juga baik menurut hakekatnya. Dan sejak awal mulanya manusia memang mengemban kodrat yang hakekatnya memang baik, sebelum menjadi kebiasaan. 

Selanjutnya ada juga perbuatan yang tidak boleh menjadi adat kebiasaan. Karena perbuatan pada hakekatnya secara intrinsik, menurut kodratnya adalah hal yang buruk, jahat, dan merugikan, destruktif bukan hanya bagi orang lain saja tetapi juga bagi dirinya sendiri. Karena yang tidak mengikuti hakekat kodratnya yang baik itu, jika terus menerus dilakukan maka ia akan kehilangan jati dirinya sebagai manusia, hilang sifat kemanusiaannya. 

‘Carilah dan engkau akan mendapatkannya, sia-siakanlah dan engkau akan kehilangan.’ (bwt)

KOMENTAR

BLOGGER
Nama

GERBANG,56,KIBAR KABAR,15,LAYAK NGERTI,34,LORONG,37,NOT,1,PILIHAN,68,SANGGURDI,5,SEPATU,5,TOPI,21,TSN,56,TSUN,4,USL,46,VIDEO,24,YUHO,1,ZATH,1,ZBWT,9,ZEF,13,ZEVA,1,ZKG,20,
ltr
item
Genta Rohani: Manusia yang Manusiawi
Manusia yang Manusiawi
Dapatkah setiap macam perbuatan membawa kita ke arah tujuan akhir kita? Bila kita menjawab: ya, berarti tidak ada perbedaan antara hal yang benar dan hal yang salah.
https://www.cigionline.org/sites/default/files/styles/slideshow/public/images/landscape/iStock-486382364revised.jpg?itok=mqgz0FKK
Genta Rohani
https://www.gentarohani.com/2019/03/manusia-yang-manusiawi.html
https://www.gentarohani.com/
https://www.gentarohani.com/
https://www.gentarohani.com/2019/03/manusia-yang-manusiawi.html
true
9139491462367974246
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts LIHAT SEMUA Baca lebih Balas Batal Hapus Oleh Beranda PAGES POSTS View All Rekomendasi untuk Anda LABEL ARSIP CARI ALL POSTS Not found any post match with your request Kembali ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ menit lalu 1 jam lalu $$1$$ jam lalu Kemarin $$1$$ hari lalu $$1$$ minggu lalu lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN PREMIUM Harap SHARE untuk membuka kunci Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy