|TERBARU     /fa-fire/_$type=slider$sn=hide$cate=0$show=home$va=0$d=0$cm=0

Pendalaman Watak Sejati

Karena hakekat Hukum Tian di jagat raya ini sudah tertentu. bersifat tetap, tidak berubah dan pasti, dan manusia mampu memahaminya.



oleh Chew Kong Giok


GENTAROHANI.COM — Pendalaman Watak Sejati
Guna mendalami tentang “KEHARUSAN’ mentaati Watak Sejati atau Kebajikan Bercahaya atau Kebajikan Mulia. Maka hal-hal yang perlu diperhatikan:

1. Kemungkinan untuk sampai pada pengertian yang pasti. 

Karena hakekat Hukum Tian di jagat raya ini sudah tertentu. bersifat tetap, tidak berubah dan pasti, dan manusia mampu memahaminya. 
“Oleh karena manusia itu mempunyai kekuatan bathin, selayaknya tidak ada hal yang tidak dapat diketahui; selain itu karena tiap hal di dunia ini sudah mempunyai HUKUM TERTENTU. Kalau kita belum memahami Hukum itu sedalam-dalamnya, sebab kita belum sekuat tenaga menggunakan kecerdasan kita.” (Ajaran Besar Bab V)

2. Eksisten Tian. 

Jika Tian tidak ada, maka tidak terdapat yang baik yang tertinggi. Tidak ada kemuliaan, Jika tidak ada Tian, semua hal boleh dikerjakan. Tian bukan hanya sekedar menciptakan manusia, sumber asal mula manusia, juga merupakan tujuan terakhir manusia, tujuan dari segala usaha manusia. Tanpa Tian sebagai pembuat Hukum mutlak dan sebagai Hukum tertinggi, tidak akan terdapat ‘Sifat Suka Pada Kebajikan’ yang menentukan sifat Perikemanusiaan apa yang sepantasnya dan seharusnya kita kerjakan, maka tidak ada keseyogyaan, keharusan, kepantasan. Tidak ada pula istilah perikemanusiaan, moral (susila), dan kemoralan (kesusilaan). Apabila Tian tidak ada, maka lenyaplah segala dasar untuk hukum dan kesusilaaan dan manusia sekedar mahluk hewan. Kewajiban moral betul-betul ada jika merupakan pernyataan dari Hukum Tian. Hanya Kebajikan yang berkenan pada Tian, dengan kata lain hanya jika merupakan pernyataan Tian maka kewajiban menuntut ketaatan secara mutlak. Maka ketidaktaatan adalah dosa, pelanggaran moral seperti ini tanpa dosa adalah absurd.

BACA JUGA: Suka Pada Kebajikan

3. Kemerdekaan kehendak. 

Jika manusia tidak mempunyai kehendak merdeka, manusia tidak dapat memilih antara yang benar dan antara yang salah, jadi tidak bertanggung jawab akan apa yang dia kerjakan, dan manusia tidak dapat mengarahkan arah hidupnya. Jika tidak ada kemerdekaan memilih maka bisa dianggap semua perbuatan benar, sama halnya tidak adanya keharusan untuk taat. Justru hukum kodrat ‘suka kepada kebajikan” sebagai suatu sarana pilihan antara yang bersifat jiwa, dan yang bersifat badan. Tengah dan Harmonis ialah suatu patokan standar manusia jika ingin hidup sebagai manusia, karena manusia adalah mahluk dualitas, sebagai mahluk pribadi/individui yang jasmani rohani, sekaligus juga sebagai mahluk sosial, manusia mahluk individu dan sosial.

Hal tersebut di atas tidak perlu dibahas, kita anggap sebagai suatu postulat. Postulat adalah kebenaran-kebenaran atau proposisi yang tidak dibuktikan dalam pembahasan ini. Jadi postulat adalah pernyataan-pernyataan yang dipinjam dari pengetahuan bidang lain. Semuanya itu kita anggap sebagai telah dibuktikan seluruhnya dan kemudian kita pakai sebagai postulat.


Ilmu mempunyai dua jalan raya untuk mendekati obyeknya. Mana yang dipakai bergantung kepada hakekat obyeknya dan obyek formalnya karena jalan itu dipilih dengan maksud untuk mencapai tujuannya. 

Ke dua jalan tersebut adalah :

1. “Dengan Iman lalu sadar, dinamai hasil perbuatan Xing” 自誠明, 謂之性
Jika menggunakan metode keilmuan, ini adalah cara metode deduktif.
Metode deduktif, sintetis, apriori atau juga disebut metode rasional. Metode ini bertolak dari prinsip-prinsip, postulat-postulat, aksioma-aksioma dan kemudian menguraikan mengarah ke penerapannya.

2. “Karena sadar lalu beriman, hasil mengikuti agama” 自明誠, 謂之教
Ini adalah Metode Induktif, analitis, a posteriori, atau metode empiris, adalah metode yang bertitik tolak dari pengalaman, dan bergeak maju dengan cara pengamatan (observasi), eksperimen dan membuat klasifikasi dengan tujuan menyusun hukum-hukum yang umum.

Metode ilmu filsafat moral, sebagai sesuatu yang normatif, menggunakan metode campuran, baik deduktif rasional maupun induktif eksperimental. Tetapi tekanannya pada metode deduktif rasional, namun tidaklah berarti mengabaikan empiris pengalaman. Membahas moral tidak dapat hanya bertumpu pada landasan pengalaman saja, yang terbatas pada apa yang ada dan tidak dapat menyentuh hakekat ‘keharusan’. Filsafat moral bertolak dari suatu pandangan tertentu tentang alam jagat raya dan manusia. 

Untuk memahami suatu agama tidaklah cukup hanya berdasarkan angan-angan, yang terkadang bertentangan dengan ilmu pengetahuan yang susah dicerna secara rasional. Hal ini penting, karena kita butuh suatu kebenaran sejati dari sang pencipta. Sehingga bisa diyakini dengan pasti apa manusia itu, dan harus bagaimana sebagai manusia. Maka disini ilmu filsafat moral diadopsi sebagai alat untuk memahami kebenarannya tentang manusia, bagaimana semestinya perbuatan manusia, apa tujuannya. 

Jadi kita tidak perlu merasa alergi mendengar anggapan bahwa Khonghucu bukan agama, tetapi Filsafat. Bukan hal yang tabu jika suatu agama, dalam mencari kebenaran sejati menggunakan metode ilmu pengetahuan yang dapat membantu memahami, apa dan bagaimana sesungguhnya manusia beragama. Bukan hanya sekedar dogma yang ditelan begitu saja. Bahkan dalam Khonghucu dianjurkan manusia untuk belajar dan meneliti hakekat tiap perkara di dunia ini, guna menemukan kebenaran hukum Tian

Kita patut mensyukuri dan berbangga, jika Khonghucu adalah agama sekaligus filsafat, karena Hukum Kodrat yang melekat pada manusia, dengan Hukum Alam semesta jagat raya ini adalah sesuatu yang realistis, nyata. Di dunia teknologi dan science, dengan memahami Hukum Alam menjadi awal perkembangan dan kemajuan peradaban manusia di segala bidang kehidupan. Kita tak dapat menghindari kenyataan ini dan memang harus begitu, jika manusia ingin mempertahankan hidup lebih baik, lebih sehat, lebih nyaman, lebih praktis effisien, lebih murah, lebih dan lebih baik lagi. 

Kuncinya adalah ilmu pengetahuan tentang hukum alam, termasuk tentang hukum yang melekat pada manusia. Demikian juga manusia sebagai mahluk berderajat mulia, bukan hanya berakal budi tetapi ia juga mengemban benih-benih kebajikan sebagai perintah suci Sang Pencipta. 

Manusia adalah bagian dari alam dan dirinya pun mengemban hukum alam, maka ia tidak bisa menghindari Hukum-hukum-Nya. Ini adalah kodrat manusia. Dan jika manusia menghendaki bagaimana menjalankan hidup yang sesuai dengan kehendak Sang Pencipta, sudah tentu yang paling awal mula adalah harus memahami hukum-hukum Nya, bukan saja hukum alam tetapi juga hukum-hukum kodrat yang melekat pada diri manusia. (bwt)

KOMENTAR

BLOGGER
Nama

GERBANG,56,KIBAR KABAR,15,LAYAK NGERTI,34,LORONG,37,NOT,1,PILIHAN,68,SANGGURDI,5,SEPATU,5,TOPI,21,TSN,56,TSUN,4,USL,46,VIDEO,24,YUHO,1,ZATH,1,ZBWT,9,ZEF,13,ZEVA,1,ZKG,20,
ltr
item
Genta Rohani: Pendalaman Watak Sejati
Pendalaman Watak Sejati
Karena hakekat Hukum Tian di jagat raya ini sudah tertentu. bersifat tetap, tidak berubah dan pasti, dan manusia mampu memahaminya.
https://gamsatessaytutor.com/wp-content/uploads/2016/06/Gamsat-essay.jpg
Genta Rohani
https://www.gentarohani.com/2019/03/pendalaman-watak-sejati.html
https://www.gentarohani.com/
https://www.gentarohani.com/
https://www.gentarohani.com/2019/03/pendalaman-watak-sejati.html
true
9139491462367974246
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts LIHAT SEMUA Baca lebih Balas Batal Hapus Oleh Beranda PAGES POSTS View All Rekomendasi untuk Anda LABEL ARSIP CARI ALL POSTS Not found any post match with your request Kembali ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ menit lalu 1 jam lalu $$1$$ jam lalu Kemarin $$1$$ hari lalu $$1$$ minggu lalu lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN PREMIUM Harap SHARE untuk membuka kunci Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy