|TERBARU     /fa-fire/_$type=slider$sn=hide$cate=0$show=home$va=0$d=0$cm=0

Harimau yang Mengangguk

Diterjemahkan dari buku A Chinese Wonder Book (Norman Hinsdale Pitman), oleh Budi Wangsa Tedy.

Di luar tembok kota di Cina, hiduplah seorang penebang kayu muda bernama Tang dan ibunya yang sudah tua, seorang wanita berusia tujuh puluh tahun. Mereka sangat miskin dan hanya memiliki gubuk dengan satu kamar kecil, terbuat dari lumpur dan rumput, yang mereka sewa dari tetangga.

Setiap hari Tang bangun pagi dan naik ke gunung dekat rumah mereka. Di sana dia menghabiskan hari itu dengan memotong kayu bakar untuk dijual di kota dekat sana. Di malam hari ia akan pulang, membawa kayu ke pasar, menjualnya, dan membawa kembali makanan untuk ibunya dan dirinya sendiri. 

Meskipun mereka miskin, mereka sangat bahagia, karena pria muda itu sangat mencintai ibunya, dan wanita tua itu merasa putranya adalah yang terbaik di seluruh dunia. Akan tetapi, teman-teman mereka merasa kasihan pada mereka dan berkata, "Sayang sekali kami tidak memiliki belalang di sini, sehingga keluarga Tang bisa mendapatkan makanan dari Tian!"


Suatu hari Tang bangun sebelum siang hari dan mulai menuju bukit, membawa kapak di bahunya. Dia mengucapkan selamat tinggal pada ibunya, mengatakan padanya bahwa dia akan kembali lebih awal dengan muatan kayu yang lebih berat dari biasanya, karena besok hari libur dan mereka harus makan makanan yang baik. Sepanjang hari, Ibu Tang menunggu dengan sabar, berkata pada dirinya sendiri berulang kali saat dia mengerjakan pekerjaannya yang sederhana, "Anak laki-laki yang baik, anak yang baik, betapa dia mencintai ibu tuanya!"

Sore harinya dia mulai menunggu kepulangan Tang—tetapi sia-sia. Matahari makin tenggelam di barat, tetapi tetap saja Tang belum pulang. Akhirnya wanita tua itu ketakutan. "Putraku yang malang!" gumamnya. "Sesuatu telah terjadi padanya." Memaksakan matanya yang lemah, dia melihat ke sepanjang jalanan gunung. Tidak ada yang terlihat di sana kecuali kawanan domba yang mengikuti gembala. "Celakalah aku!" erang wanita itu. "Anakku! Anakku!" Dia mengambil tongkatnya dari sudutnya dan berjalan tertatih-tatih ke rumah tetangga, untuk memberitahunya tentang masalahnya dan memintanya untuk pergi dan mencari bocah yang hilang.

Tetangga ini baik hati, dan bersedia membantu Ibu Tang tua, karena dia merasa sangat kasihan padanya. "Ada banyak binatang buas di pegunungan," katanya, menggelengkan kepalanya ketika dia berjalan pergi dengannya, dan mempersiapkan wanita yang ketakutan ini untuk kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi, "dan aku khawatir anakmu telah dibawa oleh salah satu dari mereka." 

Ibu Tang menjerit ngeri dan lemas lungai ke tanah. Temannya berjalan perlahan di jalanan gunung, mencari jejak dengan hati-hati. Akhirnya ketika dia sudah setengah jalan di tanjakan, dia sampai ke tumpukan pakaian yang sobek berlumuran darah. Kapak tukang kayu itu tergeletak di sisi jalan, juga terdapat tali dan tongkat untuk mengangkut kayu. Tidak salah lagi: setelah bertarung dengan berani, Tang dibawa pergi oleh seekor harimau.

Setelah mengumpulkan pakaian yang robek, pria itu pergi menuruni bukit dengan sedih. Melihat ibu yang malang itu, dia berat untuk mengatakan bahwa satu-satunya anak lelakinya sudah tiada. Di kaki gunung dia menemukan ibu Tang masih terbaring di tanah. Ketika dia mendongak dan melihat apa yang dia bawa, dengan tangisan putus asa dia pingsan. Ibu Tang sudah sadar apa yang telah menimpa anaknya.

Tetangga itu membawanya ke rumah kecil dan memberinya makanan, tetapi mereka tidak bisa menghiburnya. "Anakku!" dia menangis, "Apa gunanya hidup? Dia adalah satu-satunya anak lelakiku. Siapa yang akan merawat saya di usia tua ini? Mengapa Tian memperlakukan saya dengan cara yang kejam ini?"

Dia menangis, merobek rambutnya, dan memukuli dadanya, sampai orang mengatakan dia sudah gila. Semakin lama dia berkabung, kondisi sang ibu makin menyedihkan.

Namun, keesokan harinya, tetangga-tetangganya sangat terkejut, ibu Tang berangkat ke kota, berjalan perlahan-lahan dengan menggunakan tongkatnya. Pemandangan yang begitu menyedihkan untuk dilihat, begitu tua, sangat lemah, dan begitu kesepian. Setiap orang ikut berduka dan menunjuknya, mengatakan, "Lihat! Jiwa malang itu tidak memiliki siapa pun untuk membantunya!"

Di kota ibu Tang bertanya jalan menuju Pengadilan. Ketika dia sampai, dia berlutut di pintu gerbang depan, memanggil dengan keras dan menceritakan nasib buruknya. Tepat pada saat itu, hakim kota sedang berjalan menuju ruang sidang untuk mengadili kasus-kasus yang mungkin diajukan kepadanya. Dia mendengar wanita tua itu menangis dan meratap di luar, dan meminta salah seorang pelayan membiarkannya masuk dan menceritakan masalahnya.

Inilah yang diinginkan ibu Tang. Dia menenangkan diri, lalu berjalan terpincang-pincang ke aula sidang.

"Ada apa, wanita tua? Mengapa kamu membuat keributan di depan gedungku? Bicaralah dengan cepat dan ceritakan masalahmu."

"Aku sudah tua dan lemah," ibu Tang memulai ceritanya; "lumpuh dan hampir buta. Aku tidak punya uang dan tidak punya cara menghasilkan uang. Aku tidak punya kerabat lagi di mana pun. Aku bergantung pada putraku satu-satunya untuk mencari nafkah. Setiap hari dia mendaki gunung, karena dia adalah seorang penebang kayu , dan setiap malam dia kembali ke rumah, membawa cukup uang untuk makanan kita. Tapi kemarin dia pergi dan tidak kembali. Seekor harimau gunung membawanya dan memakannya. Dan sekarang, tampaknya tidak ada jalan lain—saya harus mati kelaparan. Hatiku yang pedih menyerukan keadilan. Aku telah datang ke aula ini hari ini, untuk memohon Anda untuk menghukum pembunuh anakku. Hukum mengatakan bahwa tidak ada yang bisa menumpahkan darah, tanpa mendapatkan hukuman. "

"Tapi, ibu, apakah kamu gila?" teriak Hakim itu, dan tertawa keras. "Bukankah kamu yang mengatakan bahwa harimaulah yang membunuh anakmu? Bagaimana bisa harimau dibawa ke pengadilan? Kamu sudah kehilangan akal sehatmu."

Pertanyaan hakim tidak membawa hasil. Ibu Tang terus berseru. Dia tidak mau pergi sampai dia mencapai tujuannya. Aula bergema dengan suara lolongannya. Hakim tidak tahan lagi. "Tunggu! Ibu," serunya, "hentikan jeritanmu. Aku akan melakukan apa yang kamu minta. Pulang saja dan tunggulah sampai aku memanggilmu ke pengadilan. Pembunuh anakmu akan ditangkap dan dihukum."

Hakim, tentu saja, hanya berusaha untuk menyingkirkan ibu gila itu, berpikir bahwa jika dia bisa mengeluarkannya, dia bisa memberi perintah untuk tidak membolehkan ibu Tang masuk ke aula lagi. Namun wanita tua itu cukup cerdas, dia melihat rencana si Hakim dan menjadi lebih keras kepala dari sebelumnya.

"Tidak, aku tidak bisa pergi," jawabnya, "sampai aku melihatmu menandatangani perintah agar harimau itu ditangkap dan dibawa ke aula pengadilan ini."

Hakim itu bukan orang yang jahat, ia memutuskan untuk menghibur wanita tua itu dengan mengabulkan permohonannya yang aneh. Dia bertanya kepada asistennya, siapa di antara mereka yang mau pergi mencari harimau. Salah satu dari orang-orang ini, bernama Li-neng, bersandar di dinding, setengah tertidur. Dia telah banyak minum sehingga tidak mendengar apa yang terjadi di ruangan itu. Salah satu temannya mencoleknya tepat saat hakim meminta sukarelawan.

Mengira hakim memanggilnya, dia melangkah maju, berlutut di lantai, berkata, "Aku, Li-neng, bisa pergi dan melaksanakan perintahmu."

"Baiklah, Anda yang akan melakukannya," jawab hakim. "Ini surat tugasmu. Majulah dan lakukan tugasmu." Karena itu, ia menyerahkan surat perintah kepada Li-neng. "Sekarang, wanita tua, apakah kamu puas?" dia melanjutkan.

"Cukup puas, Yang Mulia Hakim," jawabnya.

"Kalau begitu pulanglah dan tunggu di sana sampai aku mengirim kabar."

Sambil menggumamkan beberapa kata terima kasih, ibu yang tidak bahagia meninggalkan gedung.

Ketika Li-neng pergi ke luar ruang sidang, teman-temannya mengerumuninya. "Dasar pemabuk!" mereka tertawa; "Apakah kamu tahu apa yang telah kamu lakukan?"

Li-neng menggelengkan kepalanya. "Hanya urusan kecil untuk Pak Hakim, bukan? Cukup mudah."

"Sebut saja mudah, jika kau mau. Bung, tangkap harimau, harimau pemakan manusia, dan bawa dia ke kota! Lebih baik ucapkan selamat tinggal dulu dengan ayah dan ibumu. Mereka tidak akan pernah melihatmu lagi."

Li-neng mulai sadar dari mabuknya, dan kemudian sadar bahwa teman-temannya benar. Dia sangat bodoh. Ah, tentu saja hakim menganggap semuanya hanya sebagai lelucon, pikirnya. Tidak pernah ada surat perintah seperti itu yang pernah ditulis sebelumnya! Sudah jelas bahwa hakim berencana hanya untuk menyingkirkan wanita tua yang meratap. Li-neng membawa surat perintah itu kembali ke ruang pengadilan dan memberi tahu bahwa harimau itu tidak dapat ditemukan.

Tetapi hakim tidak berminat untuk bercanda. "Tidak dapat ditemukan? Dan mengapa tidak? Kamu setuju untuk menangkap harimau ini. Mengapa hari ini kamu mencoba untuk keluar dari janjimu? Ini tidak bisa diterima, aku telah memberikan kata-kataku untuk memuaskan wanita tua yang berteriak minta keadilan. "

Li-neng berlutut dan membenturkan kepalanya ke lantai. "Aku mabuk," serunya, "ketika aku memberikan janjiku. Aku tidak tahu apa yang kamu tugaskan. Aku bisa menangkap seorang laki-laki, tetapi bukan seekor harimau. Aku tidak tahu apa-apa tentang hal-hal semacam itu. Tetapi, jika kamu tetap menginginkannya, aku bisa pergi ke bukit dan menyewa pemburu untuk membantu saya. "

"Baiklah, tidak ada bedanya bagaimana kamu menangkapnya, selama kamu membawanya ke pengadilan. Jika kamu gagal dalam tugasmu, tidak ada yang tersisa selain memukulmu sampai kamu berhasil. Aku memberimu lima hari."

Selama beberapa hari berikutnya Li-neng tidak melewatkan sejengkal pun untuk mencari harimau pembunuh itu. Para pemburu terbaik di negeri itu dipekerjakan. Siang dan malam mereka mencari di perbukitan, bersembunyi di gua-gua gunung, menonton dan menunggu, tetapi tidak dapat menemukan apa pun. Li-neng gelisah, karena dia sekarang lebih takut pada hukuman Hakim yang berat daripada cakar harimau.

Pada hari kelima ia harus melaporkan kegagalannya. Dia menerima hukuman lima puluh pukulan di punggung. Tapi itu bukan yang terburuk. Selama enam minggu ke depan, walaupun berusaha sekuat tenaga, dia tidak dapat menemukan jejak harimau itu. Setiap lima hari, dia mendapat hukuman pemukulan lagi. Li-neng mulai putus asa. Sebulan lagi hukuman seperti itu akan dapat membunuhnya. Li-neng sadar akan hal ini, namun dia memiliki sedikit harapan. Teman-temannya menggelengkan kepala ketika mereka melihatnya. "Dia akan segera mati," kata mereka satu sama lain. "Kenapa kamu tidak kabur saja?" mereka bertanya padanya. "Ikuti contoh harimau itu. Kamu tahu dia telah kabur jauh. Hakim tidak akan berusaha untuk menangkapmu jika kamu kabur."

Li-neng menggelengkan kepalanya saat mendengar saran ini. Dia tidak punya keinginan untuk meninggalkan keluarganya selamanya, dan dia merasa yakin akan ditangkap dan dihukum mati jika dia mencoba melarikan diri.

Suatu hari, setelah semua pemburu menyerah dan kembali ke rumah mereka di lembah, Li-neng memasuki kuil di gunung untuk berdoa. Air mata menghujani pipinya saat dia berlutut di hadapan altar. "Aduh! Mampuslah aku!" dia mengerang di antara doanya; "Mampus, karena sekarang tidak ada harapan lagi. Seandainya saja aku tidak mabuk!"


Saat itu dia mendengar suara gemerisik di dekatnya. Mendongak, dia melihat seekor harimau besar berdiri di gerbang kuil. Tetapi Li-neng tidak lagi takut pada harimau. Dia tahu hanya ada satu cara untuk menyelamatkan diri. "Ah," katanya, menatap mata kucing besar itu lurus-lurus, "kamu datang untuk memakanku, bukan? Yah, mungkin kamu akan menganggap dagingku agak keras, karena aku telah dipukuli dengan empat ratus pukulan selama enam minggu ini. Anda adalah harimau yang sama yang membawa Tang bulan lalu, bukan? Tukang kayu ini adalah satu-satunya putra, satu-satunya tulang punggung dari seorang ibu tua. Sekarang wanita malang ini telah melaporkan Anda kepada Hakim, yang telah mengeluarkan surat perintah penangkapan Anda. Saya telah dikirim untuk menemukan Anda dan membawa Anda ke pengadilan. Anda telah bertindak pengecut, dan bersembunyi. Akibatnya saya yang mendapat hukuman pukulan. Sekarang aku tidak ingin menderita lagi karena pembunuhanmu. Kau harus ikut denganku ke kota dan menjawab panggilan pengadilan. "

Selama Li-neng berbicara, harimau itu mendengarkan dengan seksama. Ketika pria itu diam, hewan itu tidak berusaha untuk melarikan diri, tetapi, sebaliknya, tampak bersedia dan siap untuk ditangkap. Dia menundukkan kepalanya ke depan dan membiarkan Li-neng menyelipkan rantai yang kuat di atasnya. Kemudian dia mengikuti pria itu dengan tenang menuruni gunung, melewati jalan-jalan kota yang ramai, ke ruang sidang. Sepanjang jalan terjadi kehebohan. "Harimau yang membunuh manusia telah ditangkap," teriak orang-orang. "Dia dituntun ke pengadilan."

Kerumunan orang-orang mengikuti Li-neng ke aula pengadilan. Ketika hakim berjalan masuk, setiap orang menjadi hening setenang kuburan. Semua dipenuhi dengan rasa heran melihat pemandangan aneh seekor harimau dipanggil ke hadapan seorang hakim.

Hewan besar itu tampaknya tidak takut pada mereka yang menonton dengan penuh rasa ingin tahu. Dia duduk di depan hakim, seperti seekor kucing besar. Hakim mengetuk meja sebagai tanda bahwa persidangan siap dimulai.

"Harimau," katanya, berbalik ke arah tahanan, "apakah kamu memakan tukang kayu Tang, sesuai dengan tuduhan pembunuhan?"

Harimau itu dengan serius mengangguk.

"Ya, dia membunuh putraku!" teriak ibu tua itu. "Bunuh dia! Beri dia kematian yang pantas untuknya!"

"Nyawa dibayar nyawa adalah hukum negara," lanjut hakim, mengacuhkan ibu yang sedih itu, sambil tetap menatap terdakwa dengan tajam. "Apakah kamu tidak tahu? Kamu telah merenggut seorang wanita tua tak berdaya dari putra satu-satunya. Tidak ada kerabat yang dapat menghidupinya. Dia menangis memohon untuk keadilan. Kamu harus dihukum karena kejahatanmu. Hukum harus ditegakkan. Namun, aku bukan hakim yang kejam. Jika Anda bisa berjanji untuk menggantikan tempat putra janda ini dan menghidupi wanita itu di usianya yang sudah lanjut, saya akan membebaskan Anda dari hukuman mati. Bagaimana, apakah Anda menerima tawaran saya? "

Harimau itu kembali menganggukan kepalanya.

Orang-orang yang menonton sambil terganga, menjulurkan leher mereka untuk melihat apa yang akan terjadi, dan sekali lagi mereka terkejut melihat binatang buas itu menganggukkan kepala.

"Baiklah, kalau begitu, kamu bebas untuk kembali ke rumah gunungmu; hanya, tentu saja, kamu harus mengingat janjimu, untuk dapat menghidupi kehidupan ibu tua Tang."

Rantai dilepas dari leher harimau, dan hewan besar itu berjalan pelan keluar dari aula, menyusuri jalan, dan melalui gerbang yang membuka ke arah gunung.

Sekali lagi wanita tua itu menjadi sangat marah. Dia terhuyung-huyung keluar dari ruangan, dia melirik masam ke arah hakim, bergumam berulang-ulang, "Siapa yang pernah mendengar tentang harimau yang menggantikan anak laki-laki? Sungguh sebuah tipu muslihat saja, untuk menangkap binatang buas, dan kemudian membebaskannya. " Namun, tidak ada yang bisa dia lakukan selain pulang ke rumah, karena hakim telah memberi perintah tegas bahwa dia tidak boleh muncul di hadapannya lagi.

Dengan patah hati dia memasuki gubuk terpencil di kaki gunung. Tetangga-tetangganya menggelengkan kepala ketika mereka melihatnya. "Dia tidak bisa hidup lama," kata mereka. "Dia memiliki tampilan kematian di wajahnya yang keriput. Jiwa yang malang! Dia tidak punya apa-apa untuk hidup, dia akan kelaparan."

Tapi mereka keliru.

Pagi berikutnya ketika wanita tua itu pergi ke luar untuk menghirup udara segar, dia menemukan seekor rusa yang baru saja terbunuh di depan pintunya. Pengganti putranya itu mulai menepati janjinya, karena ibu Tang bisa melihat bekas cakar di tubuh hewan yang mati itu. Dia membawa rusa ke rumah dan berpakaian untuk pergi pasar. Keesokan harinya dia tidak kesulitan menjual daging dan kulitnya dengan sejumlah uang. Semua orang mendengar berita tentang hadiah pertama harimau itu, dan tidak ada yang ingin menawar dengan harga murah.

Dengan perut yang terisi, wanita yang bahagia itu pulang ke rumah dengan gembira, dengan uang yang cukup untuk bertahan selama beberapa hari. Seminggu kemudian harimau itu datang ke rumahnya dengan gulungan kain dan sejumlah uang di mulutnya. Dia menjatuhkan hadiah baru ini di kakinya dan melarikan diri bahkan tanpa menunggu dia mengucapkan terima kasih. Ibu Tang sekarang melihat bahwa hakim telah bertindak bijak. Dia berhenti berduka untuk putranya yang sudah mati dan mulai menyukai harimau itu yang datang menggantikan putranya dengan sukarela.

Harimau itu semakin dekat pada ibu angkatnya dan sering kali dengan senang hati menunggu di depan pintu rumahnya, menunggunya datang dan membelai bulu lembutnya. Dia tidak lagi memiliki keinginan untuk membunuh. Pemandangan darah tidak begitu menggoda seperti di masa mudanya. Tahun demi tahun ia membawa persembahan mingguan kepada majikannya sampai semua kebutuhan ibu Tang terpenuhi.


Akhirnya, seiring berjalannya waktu, ibu Tang tua yang baik meninggal dunia. Tetangga-tetangga yang baik hati meletakkannya di tempat peristirahatan terakhirnya di kaki gunung besar. Ada cukup uang yang tersisa dari apa yang telah dia tabung untuk memasang batu nisan yang indah, di nisan itulah cerita ini ditulis.

Harimau yang setia berduka merindukan ibu angkatnya. Dia berbaring di kuburannya, meratap seperti anak kecil yang kehilangan ibunya. Dia rindu mendengarkan suara yang sangat dia cintai, dia mencari di lereng gunung, kembali setiap malam ke pondok kosong, tetapi semuanya sia-sia. Ibu Tang yang dia cintai pergi untuk selamanya.

Suatu malam ia menghilang dari gunung, dan sejak hari itu hingga saat ini tidak ada seorang pun di provinsi itu yang pernah melihatnya lagi. Beberapa orang yang tahu cerita ini mengatakan bahwa dia mati karena kesedihan di gua yang telah lama dia gunakan sebagai tempat persembunyiannya. Yang lain menambahkan, dengan bijak, bahwa, seperti Shenming, ia dibawa ke Surga, karena perbuatan baiknya dan untuk hidup sebagai Shenming selamanya. (bwt)

KOMENTAR

BLOGGER
Nama

GERBANG,56,KIBAR KABAR,15,LAYAK NGERTI,34,LORONG,37,NOT,1,PILIHAN,68,SANGGURDI,5,SEPATU,5,TOPI,21,TSN,56,TSUN,4,USL,46,VIDEO,24,YUHO,1,ZATH,1,ZBWT,9,ZEF,13,ZEVA,1,ZKG,20,
ltr
item
Genta Rohani: Harimau yang Mengangguk
Harimau yang Mengangguk
Diterjemahkan dari buku A Chinese Wonder Book (Norman Hinsdale Pitman), oleh Budi Wangsa Tedy.
https://www.chm-photography.com/wp-content/uploads/2015/07/Tiger-10.jpg
Genta Rohani
https://www.gentarohani.com/2019/04/harimau-yang-mengangguk.html
https://www.gentarohani.com/
https://www.gentarohani.com/
https://www.gentarohani.com/2019/04/harimau-yang-mengangguk.html
true
9139491462367974246
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts LIHAT SEMUA Baca lebih Balas Batal Hapus Oleh Beranda PAGES POSTS View All Rekomendasi untuk Anda LABEL ARSIP CARI ALL POSTS Not found any post match with your request Kembali ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ menit lalu 1 jam lalu $$1$$ jam lalu Kemarin $$1$$ hari lalu $$1$$ minggu lalu lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN PREMIUM Harap SHARE untuk membuka kunci Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy