|TERBARU     /fa-fire/_$type=slider$sn=hide$cate=0$show=home$va=0$d=0$cm=0

Memeluk Agama Tidak Perlu Lebih Dulu Belajar Bahasa Asli

Bahan renungan kita bersama dari seorang penganut agama Khonghucu di Indonesia yang masih perlu banyak belajar dalam menapaki dao.


oleh: Uung Sendana Linggaraja

GENTAROHANI.COM — Mengzi berkata, “Seorang yang dapat bersikap Tengah, hendaklah membimbing orang yang tidak dapat bersikap Tengah. Yang pandai hendaklah membimbing yang tidak pandai. Demikianlah orang yang akan merasa bahagia mempunyai ayah atau kakak yang Bijaksana. Kalau yang dapat bersikap Tengah menyia-nyiakan yang tidak dapat bersikap Tengah, yang pandai menyia-nyiakan yang tidak pandai, maka antara yang bijaksana dan yang tidak bijaksana sesungguhnya tiada bedanya walau satu cun pun.” (Mengzi IVB: 7)

Mengzi berkata, “Yangzi mengajar orang mengutamakan diri sendiri; biar hanya dengan mencabut sehelai rambutnya sudah dapat menguntungkan dunia, ia tidak mau melaksanakan.

Mozi mengerjakan cinta yang menyeluruh sama, biar harus kerja keras sehingga rambut di kepala sampai betis tergosok habis, asal menguntungkan dunia, akan dikerjakannya.

Zi Mo memegang sikap tengah. Memegang sikap tengah ini nampaknya sudah mendekati kebenaran, tetapi kalau memegang sikap tengah tanpa mempertimbangkan keadaan, maka dengan yang memegang satu haluan tadi sama saja.

Mengapa aku benci sikap memegang satu haluan semacam itu? Tidak lain karena dapat merusak Jalan Suci, yaitu hanya melihat satu hal saja dan mengabaikan seratus hal yang lain.”

(Mengzi VIIA: 26: 1-4)

Banyak Bahasa yang digunakan di dunia ini. Huayu adalah salah satu Bahasa yang cukup luas digunakan. Dalam suatu Bahasa, dikenal adanya aksara, huruf, kata dan kalimat. Untuk mengartikan suatu Bahasa serta aksara atau kata diperlukan kamus. Kamus menjadi jembatan Bahasa. Seperti kita ketahui, Bahasa berkembang dari masa ke masa, tak terkecuali huayu. Maka kamus pun dari masa-ke masa berkembang dengan memasukkan aksara dan kata baru.

Bahasa yang digunakan oleh Nabi Kongzi apakah sama dengan Bahasa yang digunakan sekarang? Jawabnya kami yakin tidak. Apakah orang yang bisa berbahasa huayu pasti dapat memahami teks-teks kitab suci agama Khonghucu dengan baik? Jawabnya, belum tentu. Kenapa demikian? Karena bahasa berkembang. Pengertian suatu aksara di kitab Sishu Wujing pada masanya, bila dibaca dengan menggunakan pemahaman sekarang bisa saja mengandung arti yang berbeda. Inilah yang sekarang terjadi.

Mungkin pembaca bertanya-tanya, mengapa penulis menghubungkan tiga ayat suci dalam Sishu yang penulis kutip di muka dengan bahasa, huruf, kata dan kalimat? Penulis hendak mengatakan bahwa bila kita ingin mempercepat pengajaran sikap Tengah dan nilai-nilai kebajikan lainnya kepada orang banyak (ke seluruh dunia), kita tidak bisa menuntut orang ‘banyak’ atau orang-orang di seluruh dunia belajar terlebih dahulu bahasa huayu.

Sekarang ini ada kecenderungan orang-orang yang dapat berbahasa huayu seolah-olah ‘memaksakan’ orang yang tidak berbahasa huayu agar mempelajari huayu untuk memahami ajaran agama Khonghucu dengan ‘benar’. Sebetulnya anjuran ini bila dilihat sepintas lalu merupakan anjuran yang baik. Adalah kondisi ideal bila orang yang mempelajari agama Khonghucu mengerti huayu, atau lebih tepatnya mengerti wen yan wen, bahkan kou wen.

Kenyataannya apakah banyak orang yang mampu menguasainya? Dalam pengalaman Indonesia, sangat langka orang-orang yang berkemampuan seperti itu. Dalam kasus Indonesia, orang-orang yang berlatar belakang sekolah Tionghoa pun sangat langka yang mampu memahami wen yan wen apalagi kou wen. Penulis rasa kondisi seperti ini pun terjadi di berbagai penjuru dunia. Kalaupun orang akhirnya memahami rata-rata telah berusia tua. Mengapa? Karena tidak mudah untuk belajar bahasa Tionghoa dengan hurufnya yang merupakan pictograph, bahasa gambar.

Di jaman modern ini, manusia semakin sibuk, serba cepat dan bersifat instan. Tantangan kehidupan bukan lagi bagaimana memenuhi kebutuhan dasar, tapi terlebih lagi bagaimana memenuhi keinginan. Faktor ekonomi menjadi dominan, nilai-nilai yang berbeda yang kadang saling bertentangan semakin saling berebut pengaruh. Dunia semakin ‘mengecil’. Umat Khonghucu tidak lagi dalam kondisi ‘steril’ dalam nilai-nilai yang dianutnya. Kenyataan yang ada, dalam 50 tahun terakhir, bahkan dipercepat dengan era internet dua puluh tahun terakhir ini, orang semakin mudah untuk mendapatkan informasi, sekarang adalah era banjir pengetahuan, tak terkecuali banjir pengetahuan tentang nilai-nilai kehidupan yang seringkali membawa kebingungan.

Dampaknya sangat terasa bagi kita para pengagum, pengikut dan umat Khonghucu, yang nota bene sebagian besar telah berusia lebih dari setengah abad. Dan lebih terasa lagi dampaknya oleh generasi muda Khonghucu atau orang-orang berbudaya Tionghoa lainnya. Secara perlahan, budaya Khonghucu dan budaya Tionghoa tergerus dan tergantikan oleh budaya lain. Kita dapat merasakan dan melihat dengan kasat mata, betapa banyak umat Khonghucu dan orang Tionghoa pada umumnya bingung dengan budayanya sendiri. Budaya menjadi dimaknai sebagai budaya yang berada di permukaan seperti mengikuti perayaan-perayaan tahun baru imlek, Qingming, zhong qiu, peh cun dan sebagainya dengan segala pernak-perniknya dan lupa akan nilai-nilai kebajikan yang menjadi makna inti dari segenap perayaan dan persembahyangan tersebut yang mestinya diejawantahkan dalam etika moral dan pembinaan diri.

Tak adil bila kita menuntut generasi muda yang menghadapi tantangan sedemikian besar untuk dipaksa belajar huayu hanya agar dapat memahami agama Khonghucu dengan benar. Kalaupun anggaplah tuntutan itu cukup adil, berapa banyak generasi muda yang mau ‘mengorbankan’ dirinya mengikutinya di tengah perjuangan hidup? Dalam pengalaman di Indonesia, tidak lebih dari 5%. Saya rasa di negara lain pun tak akan jauh berbeda. Apakah dengan demikian 95% yang lain akan kita biarkan kehilangan akar budayanya dan nilai-nilai inti agama Khonghucu karena kendala bahasa? Penulis merasa tidak rela itu terjadi.

Berdasarkan pengalaman penulis mengajar agama Khonghucu dan membina generasi muda baik di universitas maupun kelembagaan agama Khonghucu di KBMK, PAKIN, MAKIN dan MATAKIN, dalam hal yang sederhana saja misalnya mengajarkan cara pandang dan spiritualitas yin-yang bukanlah pekerjaan mudah, karena generasi muda (bahkan generasi yang lebih tua) kita banyak yang telah dipengaruhi oleh cara berpikir dan spiritualitas berbeda, yang memandang dunia dan afterlife dalam kaca mata hitam putih, bukan yin-yang.

Jawaban atas persoalan ini adalah para senior, pakar bahasa, pakar agama, pakar filsafat, rohaniwan, yang telah tercerahkan dan memahami mengenai budaya dan nilai-nilai inti agama Khonghucu karena pemahaman yang lebih baik dalam wen yan wen atau kou wen harus berpikir dan bertindak ‘out of the box’. Pemikirannya dibalik, anda harus lebih kontekstual, dalam arti cobalah menggunakan bahasa setempat dalam upaya menyebarluaskan ajaran agama Ru-Khonghucu ke seluruh dunia dengan cara-cara yang lebih kekinian, dengan ilmu-ilmu dan teknik-teknik pendukung seperti misalnya teknik berbicara dan berbicara di depan umum agar lebih menarik, teknik mendengarkan, metode mengajar, ilmu psikologi agar mudah diterima oleh generasi muda, ilmu-ilmu agama agar memahami agama lain, dan lain sebagainya.

Bagaimana cara orang-orang yang belum atau tidak menguasai wen yan wen atau kou wen dalam memahami agama Khonghucu seperti juga penulis lakukan? Jalan yang bisa ditempuh adalah dengan cara berdiskusi dan bertanya tentang suatu aksara atau terjemahan ayat Sishu Wujing pada orang yang memahami wen yan wen tersebut agar dapat melakukan cross-check atas pemahamannya supaya mendekati ‘benar’. Tentu saja, disamping itu harus banyak membaca kitab Sishu Wujing, buku-buku agama dan pengetahuan lain untuk memperluas dan memperkaya pengetahuan keagamaannya.

Pilihan belajar dan mengajar seperti ini perlu dipertimbangkan dengan serius karena kehidupan terus berjalan dan terasa semakin kompleks. Kalau penulis mesti belajar dulu wen yan wen untuk memahami agama Khonghucu, mungkin hingga hari ini akan lebih sedikit karya yang bisa penulis sumbangkan bagi agama dan kelembagaan Khonghucu. Mungkin penulis tak akan bisa berkotbah, tak akan bisa mengajar, tak akan bisa menulis buku-buku keagamaan Khonghucu, tak akan bisa menjadi pembina di Keluarga Besar Mahasiswa Khonghucu, tak akan bisa menjadi nara sumber di kegiatan-kegiatan keagamaan dan lintas agama dan penulis tak akan bisa menjadi salah satu pemimpin di MATAKIN dan di organisasi lintas agama. Waktu tak menunggu kita.
“Gembira, marah, sedih, senang, sebelum timbul dinamai Tengah; setelah timbul tetapi masih tetap di dalam batas Tengah, dinamai Harmonis. Tengah itulah pokok besar dunia dan keharmonisan itulah cara menempuh jalan Suci di dunia. Bila dapat terselenggara Tengah dan Harmonis, maka kesejahteraan akan meliputi langit dan bumi. Segenap makhluk dan benda akan terpelihara”
(Zhong Yong Bab Utama: 4-5)
Dengan cara ini, maka harapan agar ayat yang dikutip di awal tulisan ini dapat dipelajari, diajarkan dan dipahami esensinya oleh lebih banyak orang dari berbagai bangsa dan etnis—dengan demikian ajaran Nabi Kongzi dan para nabi Ru, bukan ajaran Mozi, Yangzi, Zimo atau ajaran lain yang dianut—dan dapat benar-benar di-implementasi-kan dalam kehidupan sehingga akhirnya apa yang diharapkan oleh para nabi Ru Jiao agar kesejahteraan meliputi langit dan bumi, segenap makhluk dan benda terpelihara, dapat terwujud. Damai di dunia pun bukan menjadi angan-angan nun jauh di sana. (bwt)

KOMENTAR

BLOGGER
Nama

GERBANG,56,KIBAR KABAR,15,LAYAK NGERTI,34,LORONG,37,NOT,1,PILIHAN,68,SANGGURDI,5,SEPATU,5,TOPI,21,TSN,56,TSUN,4,USL,46,VIDEO,24,YUHO,1,ZATH,1,ZBWT,9,ZEF,13,ZEVA,1,ZKG,20,
ltr
item
Genta Rohani: Memeluk Agama Tidak Perlu Lebih Dulu Belajar Bahasa Asli
Memeluk Agama Tidak Perlu Lebih Dulu Belajar Bahasa Asli
Bahan renungan kita bersama dari seorang penganut agama Khonghucu di Indonesia yang masih perlu banyak belajar dalam menapaki dao.
https://pbs.twimg.com/media/DpO099_WwAEdsY_.jpg
Genta Rohani
https://www.gentarohani.com/2019/04/memeluk-agama-tanpa-lebih-dulu-belajar.html
https://www.gentarohani.com/
https://www.gentarohani.com/
https://www.gentarohani.com/2019/04/memeluk-agama-tanpa-lebih-dulu-belajar.html
true
9139491462367974246
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts LIHAT SEMUA Baca lebih Balas Batal Hapus Oleh Beranda PAGES POSTS View All Rekomendasi untuk Anda LABEL ARSIP CARI ALL POSTS Not found any post match with your request Kembali ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ menit lalu 1 jam lalu $$1$$ jam lalu Kemarin $$1$$ hari lalu $$1$$ minggu lalu lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN PREMIUM Harap SHARE untuk membuka kunci Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy