|TERBARU     /fa-fire/_$type=slider$sn=hide$cate=0$show=home$va=0$d=0$cm=0

Proses Berpikir Meneliti Hakekat Tiap Perkara

Tekad yang beriman menjadikan ketulusan hati, jika seseorang memiliki kehendak yang kuat berarti memiliki TEKAD. Tekad untuk apa, mengapa ia bertekad? Mengapa disebut Tekad Beriman? Semua ini muncul setelah mengerti, hasil dari pengetahuan yang diperoleh dari meneliti hakekat tiap perkara, atau hasil belajar.


oleh Chew Kong Giok

GENTAROHANI.COM—Dari pengetahuan yang benar tentang hakekat, membentuk keyakinan dan kepercayaan pada diri untuk mengarahkan hidupnya pada tujuan. Dengan kesadaran ini menjadikan diri sukarela/tulus hati mengikuti yang diarahkan oleh signal Xing.

Ketulusan hati adalah sesuatu yang esensial dalam perbuatan manusia, entah itu perbuatan baik atau perbuatan buruk. Ketulusan hati seharusnya merupakan perbuatan yang positif dan mengikuti yang baik dari hati. Tetapi ada juga orang yang beranggapan bahwa ketulusan hati untuk melakukan perbuatan buruk, dan ini tidak seluruhnya salah, karena hal yang baik eksis didalam hati, demikian juga hal yang buruk, yang dikenal sebagai nafsu manusia, hadir pula di dalam hati. 

Terkadang semua yang muncul dari hati seolah berupa panggilan hati nurani, kekaburan antara dorongan nafsu dan dorongan Xing menjadikan orang sering salah mengambil keputusan. Maka kita harus hati-hati dan mawas diri, dikontrol dengan pikiran yang jernih. Pikiran adalah alat pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan. Kesalahan mengambil keputusan bisa juga karena pengetahuan yang salah atau menyesatkan, sehingga walaupun kehendak dan tekadnya mengikuti pengetahuan, tetapi sesat. Akibatnya keputusan yang diambil pun menjadi salah dan perbuatan pun menjadi salah/buruk. Dalam Ru mengajarkan tentang bagaimana proses berpikir baik agar berhasil memperoleh pengetahuan yang benar.
‘Tahu Tempat Hentian akan diperoleh kepastian, dengan kepastian akan memperoleh ketenteraman, dengan ketenteraman dicapai kesentosaan, setelah sentosa barulah dapat berpikir benar, dan dengan berpikir benar barulah dapat berhasil’.
—Ajaran Besar Bab Utama : 2

Tahu Tempat Hentian 知止

Bahwa kita adalah manusia, hendaknya Manusia sebagai manusia, sesuai seperti yang dikehendaki oleh Tian Sang Pencipta. Manusia adalah mahluk yang termulia di antara mahluk-mahluk lain. Jika manusia adalah mahluk yang termulia, di mana letak kemuliaan yang membedakan manusia dengan mahluk lain? 

Sejak awal mula manusia menyadari dirinya sebagai mahluk yang tertinggi. Fakta dalam pengalaman hidup manusia mampu membedakan yang benar dari yang salah, yang baik dari yang buruk dan manusia mempunyai rasa wajib. Dalam manusia terdapat keharusan, tuntutan yang harus atau minta ditaati, bila manusia hidup sebagai manusia. Jika manusia oleh ‘keapaan’ nya dituntut, maka kita perlu tahu ‘kebagaimanaan’ sebagai manusia. ‘Keapaan ini ‘ sejak awal kita harus tahu, dan kebagaimanaan akan menyesuaikan cocok dengan tuntutan keapaaan. Inilah yang di maksud dengan ‘tahu tempat hentian’, bagaimana manusia sebagai manusia. 

Intelek kita tahu yang dimaksud dengan ‘tempat hentian’ yakni hukum kodrat yang melekat. Tahu tempat hentian berarti tahu hakekat hukum kodrat, dan ini bukan hanya tentang kodrat manusia tetapi semua hukum-hukum di jagat raya ini memiliki hukum kodrat yang sudah tetap, tidak berubah, pasti dan abadi. Semua itu perlu diketahui sesuai dengan keinginan manusia di dalam hal atau bidang apa yang akan dijadikan bahan pemikirannya. 

Dengan memahami hukumnya manusia akan mampu memperoleh hasil yang bermanfaat bagi hidupnya. Perjalanan hidup manusia membutuhkan proses berpikir yang benar ini, agar berhasil menjalankan kehidupan ini dengan baik. Agama mengajarkan tentang bagaimana jalan hidup manusia yang harus ditempuh dan jalan hidup manusia itu sudah tentu harus sesuai dengan hukum kodrat manusia.

Tahu tempat hentian adalah tahu hukum kodrat yang melekat pada manusia.


Memperoleh Kepastian 定

Dalam proses mekanisme berpikir, manusia tidaklah sama seperti mesin, sangat rumit dan kompleks, bahkan dapat dikatakan pikiran manusia itu prosesnya sangat ruwet sekali. Segala hal bercampur aduk dalam pikiran kita, baik pengaruh yang datang dari luar maupun dari dalam diri kita. 

Tanpa tahu tempat hentian maka kita masih belum mempunyai kepastian, apa yang selanjutnya. Dengan tahu tempat hentian, maka kita memiliki kepastian dan fokus pada lingkaran obyek permasalahan yang berhubungan dengan ‘hukum kodrat’ tadi. Istilah ‘ketetapan (tujuan)’ pada Kitab Sishu berasal dari kata ting 定 (bisa diartikan : pasti, tetap, stabil, tenang, menetapkan, menentukan, memutuskan). Istilah arti yang mana pun dipakai masih relevan dengan maksud kalimat pada ayat tersebut di atas.

Tahu hentian, maka intelek telah memastikan pilihanannya, untuk benar-benar mampu mengambil langkah selanjutnya perlu ketelitian dan keseksamaan agar tindakan intelek selanjutnya benar-benar sesuai dan cocok dengan tempat hentian tersebut. Jika sudah ada kepastian maka kita akan merasa tenteram.


Memperoleh Ketenteraman/Keheningan 静

Setelah menetapkan adanya kepastian maka pikiran harus semakin fokus dan tenang/sentosa untuk terus pada hakekat hukum kodrat tersebut, agar tidak terganggu oleh pengaruh baik dari dalam maupun dari luar, sehingga langkah-langkah selanjutnya yang perlu diambil tidak salah/meleset dari hakekat. Pikiran manusia, adalah yang paling mudah berubah dan mudah dipengaruhi, karena itu harus memiliki keyakinan dan kepercayaan yang TEGUH terhadap HUKUM TIAN, dan terus menerus berpegang pada asas hukum ini, dengan harapan tidak terpengaruh faktor-faktor lain.

Huruf jing 静 artinya hening, tenang, sunyi. Kitab Sishu Matakin menerjemahkan dengan kesentosaan (batin).

Karena memang huruf ini terkait dengan emosi perasaan manusia (Qi qing 七情), yang sering mempengaruhi jalan pikiran seseorang. Dengan adanya kepastian maka hati kita lebih bulat dan lebih tenang untuk fokus pada hakekat tempat hentian. Untuk sampai pada pengertian yang mendasar butuh proses berpikir yang teliti dan seksama, demi kita memikirkan dan menyelami hakekat tiap perkara apapun, termasuk dalam hubungannya dengan alam semesta secara radikal, yaitu dari awal mula yang paling mendasar sampai sedetil-detilnya dan dengan konsekuensi-konsekuensinya yang terakhir, dan menurut sistem proses hukum alam itu sendiri, artinya dapat diterima dengan akal sehat dan saling keterjalinan, saling berhubungan secara bertanggung jawab.
“Tiap benda itu mempunyai pangkal dan ujung, tiap perkara itu mempunyai awal dan akhir. Orang yang mengetahui mana yang didahulukan dan mana yang kemudian, ia sudah dekat dengan Dao/Jalan Suci.”
—Ajaran Besar Bab Utama : 3
Segala sesuatu di dunia ini memiliki hukum-hukum tertentu dan manusia diberi kemampuan untuk memahami hukum-hukum tersebut, sekaligus mampu membuat keputusan, pertimbangan, kesimpulan dan sekaligus mampu menindaklanjuti dalam perbuatan, dengan catatan tanpa dipengaruhi oleh emosi perasaan manusia. Ini harus dalam situasi kondisi pikiran yang terkendali, artinya dalam keadaan hening, tenang. Keadaan “hening/tenang” bukan berarti diam tetapi keadaan pikiran yang fokus terkendali. 

Dengan kondisi seperti ini kita menjadi lebih mampu menelaah lebih detail, sampai pada hukum yang sekecil-kecilnya/detail, lebih paham prima causa-nya sehingga proses berpikir menjadi aman dan mampu berpikir benar sesuai dengan hukum semesta. Situasi dan kondisi ini dinamakan aman, selamat, damai. Keadaan seperti ini karena pikiran kita dalam keadaan tenang hening, tidak kacau dan terganggu oleh emosi perasaan manusia, maka dikatakan sebagai keadaan pikiran yang sentosa (batin) aman, selamat.

“Hening adalah kondisi pikiran yang fokus terkendali.”


Memperoleh Ketenteraman 安

An 安 artinya : Aman dan tenteram, tenang, selamat, puas. Dalam Sishu diterjemahkan sebagai: sentosa (batin)

Dengan kondisi seperti ini pikiran mampu menjalankan fungsinya dengan jernih, sehingga proses berpikir benar ( 慮) untuk meneliti hakekat tiap perkara di muka bumi ini dapat berhasil (de 得).

Pada masa lalu, Melatih Hening 静 dan Tenteram 安diaplikasikan dalam bentuk latihan Jingzuo 静坐 = duduk tenang.
“Tugas hati adalah berpikir, dengan berpikir kita akan berhasil, tanpa berpikir kita takkan berhasil. Tian mengaruniai kita semuanya ini, agar lebih dahulu menegakkan yang besar, sehingga bagian yang kecil tidak bisa mengacau. Inilah yang menyebabkan menjadi manusia Mulia/Besar.”
—Mengzi VI A : 15 : 2
Karena dalam penelitian hakekat menunjukkan bahwa hakekat kodrat manusia mengarah fokus pada baik, Xing memang baik, dan faktanya manusia selalu berkeinginan pada yang baik. Tidak bisa dipungkiri bahwa tiap manusia menghendaki hidup yang baik. Ketulusan hati itu semestinya untuk hal positif yang baik, untuk itu perlu adanya standar pegangan guna mengarahkan diri pada hal yang baik. Dan Tian telah mengaruniakan sarana benih-benih kebaikan moral di dalam hati nurani manusia

Kejujuran untuk menaati panggilan berbuat baik ini, disebut sebagai lurus hati. Kesadaran penuh harus benar-benar hadir, karena manusia mengemban nafsu. Jika nafsu di luar bertemu dengan nafsu di dalam, bukan tidak mungkin manusia dikuasai oleh nafsu, sehingga kehendak menjadi berubah arah, semula untuk hal baik menjadi hal yang buruk. 
Di dalam Kitab Shi Jing diingatkan bahwa “Hati-hatilah, was-waslah seolah-olah berjalan di tepi jurang yang dalam, seolah-olah berdiri di lapisan es yang tipis.”
—Sabda Suzi VIII : 3 : 2
Untuk lurus hati, manusia tidak boleh diliputi oleh emosi perasaan manusia, supaya fokus. Lurus pada sinyal Xing. Jika masih ada pengaruh emosi ini maka manusia tidak akan dapat berbuat lurus hati.
‘Bila masih diliputi, geram, marah, takut, khawatir, suka, gemar, sedih dan sesal, maka manusia tidak dapat berbuat lurus hati.’
—Ajaran Besar VII
Tekad beriman adalah kehendak yang tulus hati pada benih kebaikan, dan manusia harus jujur, harus lurus hati dan tulus hati untuk merealisasikannya, yang akhirnya menjadi perbuatan. Membina diri itulah namanya.

Suatu perbuatan dikerjakan dengan kemauan pasti ada ketulusan hati. Suatu perbuatan menjadi tulus hati atau sukarela, haruslah dengan pengertian karena memang dikehendakinya sebagai suatu jalan ke tujuan. Perbuatan yang akan kita kerjakan haruslah hakekatnya baik, maka jalan yang harus kita tempuh juga harus dengan “jalan yang baik”, bukan jalan yang buruk yang mengakibatkan keburukan. Perbuatan seperti ini adalah perbuatan yang sukarela/tulus hati/jujur mengikuti yang baik, maka perbuatan baik dengan jalan yang baik tidak mengakibatkan timbulnya konsekuensi-konsekuensi.
“Untuk menjaga hati, tiada yang lebih baik adalah mengurangi keinginan.”
—Mengzi VII B : 35
Nafsu/keinginan sangat besar pengaruhnya bagi manusia, sehingga terkadang akal sehat tak mampu berfungsi dengan baik untuk berpikir mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensinya. Jika fungsi pertimbangan tidak bekerja dengan baik, maka perbuatan yang mengikuti nafsu keinginan akan menguasai pribadinya, sehingga menjadi suatu perbuatan yang mengakomodasi dorongan nafsu keinginan itu. 

Keinginan-keinginan seperti ini mengalahkan panggilan Xing untuk berbuat baik dan pertimbangan akal sehat, sehingga dapat menimbulkan hal yang buruk entah untuk dirinya maupun untuk orang lain. Karena itu nafsu keinginan dalam hati manusia harus terkendali dengan membatasi keinginan-keinginan atau mengurangi keinginan-keinginan.
‘Orang yang keinginan-keinginannya layak, dinamai baik.”
—Mengzi VII B : 25 : 3
Mengzi berkata : “Jangan lakukan apa yang tidak patut dilakukan dan jangan inginkan apa yang tidak patut diinginkan. Ini sudah cukup.”
—Mengzi VII A : 17
Orang yang terlalu banyak keinginan maka, maka ia tidak dapat memiliki tekad kemauan yang keras, maka ia tidak dapat tulus hati pada hakekat kebenaran, dan dorongan Xing akan terkalahkan oleh keinginan-keinginannya itu. Dalam Kitab Sabda Suci V : 11, Nabi Kongzi bersabda: “Terlalu banyak keinginan, bagaimanakah dapat berkemauan keras?”

Keinginan yang layak dan perbuatan yang patut adalah suatu kewajaran yang sesuai dengan hukum kodrat manusia, dan jangan sampai melewati batas sehingga melanggar keharmonisan. Keharmonisan adalah usaha manusia untuk menjaga agar nafsu-nafsu manusia terkendali sampai batas tengah. 

Gembira, marah, sedih, senang adalah daya hidup manusia, tanpa ini manusia tak akan berkembang dan peradaban manusiapun tidak akan maju. Manusia juga memiliki sifat-sifat seperti hewan. Mahluk hewan berbeda dengan mahluk manusia, mahluk manusia mampu berpikir, mampu mengendalikan diri, mampu membatasi diri, dan memiliki pertimbangan baik buruknya bagi dirinya, yang sesuai dengan benih kebajikan.
“Yang dibicarakan manusia tentang Xing ialah mengenai gejala-gejalanya, dan gejala-gejala ini berpokok pada kewajaran/kepantasan/kelayakan.”
—Mengzi IV B : 26
Jika kita mampu membatasi diri, maka kita akan jarang berbuat salah.
Guru bersabda: “Seseorang yang dapat membatasi diri, sekalipun mungkin berbuat salah, namun pasti jarang terjadi”.
—Sabda Suci IV : 23
Manusia memiliki kemampuan untuk mengerti, mahluk lain tidak memiliki pengertian semacam itu. Manusia mau sukarela dan tulus hati karena memang manusia tahu. Ketidaktahuan seseorang dilihat dalam hal apa?

Jika seorang pedagang tidak tahu bagaimana proses penanaman bawang, bukanlah sesuatu yang hakiki, atau seorang arsitek yang tidak mengerti tentang teknik mekanik, atau ilmu kimia, dsb. Hal ketidaktahuan ini bersifat karena ‘kekurangan pengetahuan’, bukan sesuatu yang mutlak harus dimiliki setiap orang. Sangat berbeda pengertiannya apabila seseorang kekurangan pengetahuan tentang moral kemanusiaan, apapun gelar yang dimiliki tidak akan mempunyai arti bagi ‘kelurusan hati’. Kelurusan hati adalah mengenai pengetahuan tentang sifat-sifat kodrati kemanusiaan. 

Orang yang tidak paham seperti ini bisa berbuat benar dan bisa berbuat salah. Hal yang perlu mendapat perhatian bahwa jika manusia mengejar ‘kemuliaan’ sebagai tujuan, maka tidak ada jalan pilihan lain harus perbuatan yang benar manusiawi, tidak boleh salah. Karena Hukum Tian ini mutlak, jalan yang ditempuh manusia pun harus mutlak. Jalan itu adalah satu, bersifat esa dan tidak ada pilihan cara atau jalan lain. Ada ungkapan yang mengatakan bahwa : Banyak JALAN menuju ke Roma”, untuk hal-hal duniawi manusia boleh menggunakan ungkapan ini, tetapi untuk mencapai KEMULIAAN, ungkapan tersebut tidak berlaku, karena ini menyangkut HUKUM MUTLAK Tian Yang Maha Esa.
“Dao atau Jalan Suci itu ESA adanya.”
—Mengzi III A : 1.3
Semua umat manusia di dunia memiliki kodrat yang sama, memiliki tuntutan yang sama, tanpa ketaatan pada Hukum-hukumNya manusia akan gagal mencapai tujuan kemuliaan sebagai kebahagiaan tertinggi, apalagi untuk mencapai “menyatu dengan Tian’ (Pei Tian 配天). Dalam Hukum Tian ini tidak berlaku istilah suap, sogok, rekomendasi, jaminan, pengampunan atau grasi, remisi, atau kelonggaran apapun, Hukum Tian adalah MUTLAK, tetap, tidak berubah, pasti dan selamanya.

Lihat pada Sabda Suci III : 13, bahwa: ‘Siapa berbuat dosa pada Tian, tidak ada tempat meminta doa’. Ini menunjukkan keabsolutan Hukum Tian.

Hal yang perlu diperhatikan, janganlah kita sampai menodai ketulusan hati/kesucian hati akibat ketidaktahuan atau merasa puas dengan apa yang sudah didapat. Kita telah memahami bahwa manusia selalu mengejar kepada hal yang baik, janganlah kita merasa puas dengan apa yang telah kita capai, kita harus terus menerus mengkaji, belajar dan meneliti dengan benar-benar tahu ‘baik yang sebenarnya’. Jangan sampai kita terjebak oleh ‘semu baik’. Jika kita berhenti sampai disini sudah dapat dipastikan kegagalan dalam mencapai tujuan kemuliaan.
Mengzi berkata : “Sesuatu yang mula-mula nampak baik dan pantas di ambil, ternyata kemudian tidak layak diambil; kalau tetap diambil juga. Itulah menodai kesucian. Sesuatu yang mula-mula nampak baik dan pantas diberikan, ternyata kemudian tidak layak diberikan; kalau tetap diberikan juga, itulah menodai kemurahan hati. Sesuatu yang mula-mula nampak baik dan pantas dibela mati-matian, ternyata kemudian tidak layak dibela mati-matian, kalau tetap dibela mati-matian juga, itulah menodai keberanian.”
—Mengzi IV B : 23
Misalnya : kita merasa tertarik kepada ajaran Yangcu yang mengutamakan kesenangan, mengutamakan diri sendiri, tidak peduli dengan orang lain, tidak mengakui adanya pemimpin, hidup bebas tanpa aturan yang penting merasa senang (Aliran Yangcu semacam aliran Hedonisme di Barat). Semula kita percaya dan yakin bahwa inilah ajaran yang baik dan benar, karena menyenangkan. Ternyata dalam perjalanan hidup kita suatu saat sadar bahwa semua itu tidak memberi kepuasan batin dan tidak membuat bahagia, dan kemudian ada ajaran yang lain yang lebih baik yang mampu menuntun dan membimbingnya ke arah tujuan yang diharapkan. 

Manusia normal yang suka pada baik akan mengarahkan dirinya pada baik tertinggi, ia akan meninggalkan ajaran yang semu baik itu, dan beralih mengikuti ajaran yang baru saja dia pelajari. Sebaliknya jika bertahan terhadap ajaran yang lama, padahal ia tahu bahwa ajaran lama ini tidak memberi kepuasan sejati, tetapi ia bertahan bahkan dibela mati-matian, maka ia akan gagal mencapai tujuan akhir menuju Kebahagiaan Tertinggi. Maka ketulusan hatinya atau kesucian hatinya ternodai untuk hal yang semu baik. Karena hukum Tian itu mutlak dan pasti, maka sudah dipastikan tujuan akhir “Menyatu dengan Tian“ akan mengalami kegagalan.

Untuk menghindari jebakan yang menghalangi tujuan akhir tertinggi, umat Ru harus semaksimal mungkin memfungsikan peran Akal dan Budi, Pikiran dan Hati, Iman dan Pemahaman. Maka belajar dan berpikir, belajar dan berlatih terus menerus sepanjang hidup tanpa henti, sehingga kita selalu mengalami pembaharuan dan pembaharuan kepada yang lebih baik dan lebih baik lagi, sampai kepada baik sejati.
‘Bila suatu hari dapat memperbaharui diri, perbaharuilah terus tiap hari dan jagalah agar baharu selama-lamanya.’
—Ajaran Besar II : 1
Sekarang ini di era kemajuan jaman yang luar biasa, banyak orang yang terjebak pada ‘semu baik’, sehingga mengabaikan pemenuhan tuntutan rohani. Lebih banyak bergelimang pada kehidupan duniawi yang mengarah pada pemuasan emosi perasaan manusia (qi qing 七情). Keadaan tidak seimbang antara jasmani dan rohani menimbulkan kepincangan pada kehidupan individu maupun sosial.

Dalam ilmu sosial (sosiologi) manusia dikatakan sebagai mahluk efisien, atau manusia tehnik, artinya manusia memiliki kecenderungan untuk lebih mudah, cepat, nyaman, praktis, memuaskan. Sifat ini sumber substansialnya juga berasal dari kodrat manusia yang memiliki Xing yang baik, sehingga manusia mengarah pada baik, mengejar tujuan yang baik, muncullah manusia yang bersifat sebagai mahluk efisien yang merupakan bagian dari Xing.

Karena itu bagian-bagian yang kecil tidak boleh mengalahkan bagian yang besar. Bagian-bagian yang dianggap kecil adalah hal-hal yang berhubungan dengan badan atau hal-hal duniawi. Bagian yang kecil tidak boleh mengacau bagian yang besar, karena bagian yang kecil hanya merupakan bagian yang mendukung hidup, yang merupakan alat yang membantu dalam usaha mencapai tujuan yang besar. Jadi tidak bersifat pokok atau utama. Ini bukan berarti tidak diperlukan, bagian yang kecil ini juga dibutuhkan dan penting bagi manusia untuk mempertahankan hidup, survive, namun harus terkendali dan mengenal batas sehingga tidak melanggar batas keseimbangan antara jasmani dan rohani.
‘Ada karunia pemberian Tian dan ada karunia pemberian manusia.’
—Mengzi VI A:16
Seharusnya di jaman yang modern ini, manusia lebih maju sifat kemanusiaannya, tapi kenyataannya manusia cenderung mengembangkan bagian-bagian yang kecil yang berhubungan dengan duniawi, sangat sedikit sekali perhatiannya untuk mengembangkan kemuliaan dalam dirinya, bahkan urusan moral ini barangkali ada pada urutan paling akhir. Prioritas utamanya adalah kesuksesan duniawinya.


Kesimpulan

Jika manusia bermaksud untuk mencapai Tujuan Tertinggi memperoleh Kemuliaan, maka harus di mulai dari diri pribadinya.

1. Belajar dan berpikir, belajar dan berlatih mempraktikkan. Baik melalui metode : Iman lalu menjadi mengerti/sadar maupun metode dari Mengerti/sadar lalu beroleh Iman. Hakekat tiap perkara, harus diteliti dengan hati-hati, seksama dan sampai sedalam-dalamnya sehingga benar-benar mengerti dan memahami hukum-hukum dari hakekat tiap perkara.

2. Proses berpikir yang terjadi dalam jiwa/pikiran manusia yang paling awal wajib diketahui adalah :

  • Tahu tempat hentian manusia sebagai manusia, yaitu manusia menerima karunia Tian berupa Xing yang baik, yang mengarahkan manusia pada baik, dan menjadikan manusia mempunyai tujuan kepada yang Terbaik Teringgi/Puncak Kebaikan. Manusia yang manusiawi.
  • Dengan tahu tempat hentian maka manusia akan memiliki kepastian apa yang menjadi tujuan. Jika sudah ada kepastian, maka intelek kita mendorong kehendak untuk memahami lebih lanjut, lebih luas dan lebih mendalam. Kondisi seperti ini akan membuat kehendak lebih fokus pada subyek yang sudah menjadi kepastian. Gejala-gejala fokus pikiran manusia terlihat adanya pikiran yang jernih, hening tanpa dikacaukan oleh pengaruh nafsu-nafsu baik dari luar maupun dari dalam diri pribadi.
  • Fokus yang sungguh-sungguh akan membawa pikiran menjadi tenang, tanpa terganggu oleh pengaruh-pengaruh yang dari dari dalam maupun dari luar. Jika pikiran kacau maka proses berpikir akan mengalami hambatan.
  • Keheningan/ketenangan yang penuh konsentrasi akan membuat pikiran terlindungi dari gangguan-gangguan, keadaan ini adalah ‘aman’ (sentosa).
  • Dengan kondisi pikiran yang tenang aman tanpa gangguan, tidak dikacaukan oleh berbagai macam pengaruh, maka pikiran mampu menjalankan fungsinya untuk mendalami hukum-hukum prima causa.
  • Dengan demikian proses berpikir mampu membuat pertimbangan, mengambil keputusan dan kesimpulan.
  • Dengan demikian ia berhasil menjalankan proses berpikir benar guna memperoleh pengetahuan yang lebih luas, lebih mendalam sampai pada hukum yang sekecil-kecilnya.

‘Hanya orang yang benar-benar penuh kepercayaan (bahwa manusia mengemban Firman Tian) suka belajar, baharulah ia dapat memuliakan Jalan Suci hingga matinya.’
—Sabda Suci VIII : 13
Dengan cara seperti ini, kita benar-benar memperoleh pengetahuan yang benar yang dapat menjadi pegangan untuk ditindak lanjuti. Meneliti Hakekat Tiap perkara membutuhkan proses berpikir yang benar, guna memperoleh pengetahuan tentang Hukum-hukum Tian sebagai kebenaran sejati. (bwt)

KOMENTAR

BLOGGER
Nama

GERBANG,56,KIBAR KABAR,15,LAYAK NGERTI,34,LORONG,37,NOT,1,PILIHAN,68,SANGGURDI,5,SEPATU,5,TOPI,21,TSN,56,TSUN,4,USL,46,VIDEO,24,YUHO,1,ZATH,1,ZBWT,9,ZEF,13,ZEVA,1,ZKG,20,
ltr
item
Genta Rohani: Proses Berpikir Meneliti Hakekat Tiap Perkara
Proses Berpikir Meneliti Hakekat Tiap Perkara
Tekad yang beriman menjadikan ketulusan hati, jika seseorang memiliki kehendak yang kuat berarti memiliki TEKAD. Tekad untuk apa, mengapa ia bertekad? Mengapa disebut Tekad Beriman? Semua ini muncul setelah mengerti, hasil dari pengetahuan yang diperoleh dari meneliti hakekat tiap perkara, atau hasil belajar.
https://images.unsplash.com/photo-1541103566371-1a77ffd62e05?ixlib=rb-1.2.1&ixid=eyJhcHBfaWQiOjEyMDd9&auto=format&fit=crop&w=1350&q=80
Genta Rohani
https://www.gentarohani.com/2019/06/proses-berpikir-meneliti-hakekat-tiap.html
https://www.gentarohani.com/
https://www.gentarohani.com/
https://www.gentarohani.com/2019/06/proses-berpikir-meneliti-hakekat-tiap.html
true
9139491462367974246
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts LIHAT SEMUA Baca lebih Balas Batal Hapus Oleh Beranda PAGES POSTS View All Rekomendasi untuk Anda LABEL ARSIP CARI ALL POSTS Not found any post match with your request Kembali ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ menit lalu 1 jam lalu $$1$$ jam lalu Kemarin $$1$$ hari lalu $$1$$ minggu lalu lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN PREMIUM Harap SHARE untuk membuka kunci Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy