|TERBARU     /fa-fire/_$type=slider$sn=hide$cate=0$show=home$va=0$d=0$cm=0

Manusia dan Perbuatan

Tujuan terakhir kita bergantung pada perbuatan kita. Tercapainya tujuan terakhir kita baik subjektif maupun objektif bergantung kepada perbuatan kita dalam hidup di dunia ini. Ini adalah satu-satunya jalan yang paling sesuai dengan Perintah Tian dan harkat martabat manusia. Inilah tuntutan Tian, dan tidak bertentangan dengan akal sehat apabila kebahagiaan sempurna dimengerti oleh mereka yang memilikinya.


oleh Chew Kong Giok

GENTAROHANI.COM—Sejauh ini kita mulai mengerti bahwa manusia mempunyai suatu tujuan terakhir. Apakah sebenarnya tujuan terakhir itu? Jawabannya adalah Kemuliaan karena beroleh Iman, dengan diri dipenuhi iman, ini adalah kebahagiaan tertinggi dan sempurna.

Mungkinkah dalam hidup ini bisa tercapai kebahagiaan sempurna itu? Bahwasanya kebahagiaan sempurna itu tidak mungkin dicapai dalam hidup ini. Jadi apa tujuan manusia hidup di dunia ini? Hidup di dunia ini adalah suatu jalan ke arah tujuan terakhir. Suatu jalan disebut baik apabila menolong ke arah tujuan dan buruk bila merupakan penghalang untuk tercapainya tujuan. Hidup manusia terdiri dari perbuatan-perbuatan, dan perbuatan-perbuatan itu harus di bawah kontrol. Dengan perbuatan-perbuatan semacam inilah seseorang hidup sebagai manusia. Maka maksud hidup ini adalah, hendaknya kita berbuat sedemikian rupa sehingga kita pantas menerima kemuliaan itu. 
“Hati-hatilah upaya memiliki kemampuan Kebajikan. mengendalikan diri dan pegang teguhlah Tujuan jauh.”
—Shu Jing V. A. II. 6

Tiga pertanyaan muncul :
  1. Mengapa tujuan kita bergantung pada perbuatan kita?
  2. Bagaimana tepatnya perbuatan itu?
  3. Apa yang menjadi ciri bahwa suatu perbuatan itu manusiawi?

Mengapa tujuan kita bergantung pada perbuatan kita?

Tujuan terakhir kita bergantung pada perbuatan kita. Tercapainya tujuan terakhir kita baik subjektif maupun objektif bergantung kepada perbuatan kita dalam hidup di dunia ini. Ini adalah satu-satunya jalan yang paling sesuai dengan Perintah Tian dan harkat martabat manusia. Inilah tuntutan Tian, dan tidak bertentangan dengan akal sehat apabila kebahagiaan sempurna dimengerti oleh mereka yang memilikinya.

Bahwa Tian Maha Pemberkah, yang berbuat akan menuai hasilnya. Jika Tian menanamkan kodrat Xing manusia mengarah suka pada baik, dan jika kita mentaatinya maka pasti kita menuai kebaikan pula, adalah tidak mungkin jika kita berbuat baik lalu menuai yang sebaliknya. Segala hal yang menjadi tujuan manusia harus dikerjakan dengan perbuatan, segala keinginan tak mungkin tercapai tanpa tindakan.

Demikian pula halnya dengan usaha pencapaian tujuan di bidang rohani, harus diaplikasikan dalam bentuk kerja atau perbuatan. Falsafah huruf Tionghoa tentang kerja adalah hubungan vertikal antara manusia dengan Tian adalah kerja atau perbuatan.

Huruf gong 工 terdiri huruf yi 一 di atas sebagai simbol Tian Yang Esa, garis vertikal kun simbol hubungan atas dan bawah sedangkan huruf yi 一 di bawah sebagai simbol manusia yang hidup di bumi. Jika ke tiga huruf tersebut digabung menjadi huruf gong 工 yang artinya : kerja, berbuat, atau perbuatan.

Kebesaran manusia menuntut, sebab manusia menurut hakikatnya adalah makhluk yang berakal budi dan berkehendak bebas, mampu membimbing dirinya sendiri ke arah tujuannya. Apabila manusia mengemban Xing, dan kemuliaan disodorkan kepada manusia tanpa kehendaknya, akan tidak ada gunanya baginya untuk memenuhi maksud utama dari eksistensinya, dari adanya. Setiap makhluk mencari tujuannya dengan cara yang sudah ditentukan oleh kodratnya. Karena kodrat manusia itu berakal budi dan bebas, dengan cara-cara inilah manusia wajib mencari tujuannya.

Dengan seluruh kemampuan kodrat yang dikaruniakan oleh Tian, dikerahkan sepenuhnya untuk terus berdaya upaya dengan perbuatan mengejar apa yang terbaik. Maka perbuatan mencari dan berusaha adalah mutlak sebagai sarana tercapainya maksud tujuan, dan dalam agama Ru perbuatan yang mengikuti benih-benih yang baik dinamai Dao atau Jalan Suci. Dengan kata lain Jalan Suci itu isinya adalah perbuatan-perbuatan baik sepanjang hidup.
“Carilah dan engkau akan mendapatkannya, sia-siakanlah engkau akan kehilangan.”
—Mengzi VI A : 6 : 7
—Mengzi VIA : 8 : 4
—Mengzi VIIA : 3 : 1

Perbuatan manusiawi

Di sini kita membicarakan tentang perbuatan yang manusiawi, artinya perbuatan yang dikuasai secara sadar oleh manusia di bawah kontrolnya dan dengan sengaja dikehendakinya. Maka si pelaku bertanggung jawab atas perbuatannya. Jadi bukan perbuatan anak-anak atau orang yang tidak waras (gila) atau perbuatan orang tidur.

Yang dipersoalkan dalam kehidupan beragama adalah apakah manusia menguasai perbuatan-perbuatannya atau tidak? Hanya manusia saja yang mampu mengontrol perbuatan-perbuatannya. Sedangkan hewan melakukan kegiatannya berdasarkan aktivitas sensitif (naluri) atau vegetatif seperti makan, tidur, berjalan, tumbuh, buang kotoran dsb.

Manusia adalah satu-satunya makhluk di dunia yang dapat berpikir, tetapi apabila pikiran-pikirannya itu hanya berjalan begitu saja, tanpa pengarahan dan kontrol dengan sadar, perbuatan-perbuatan demikian adalah perbuatan manusia yang sama seperti hewan dan bukan perbuatan manusia yang manusiawi menurut sifat kemanusiaannya. Makan dan tidur menurut hakikatnya sekedar perbuatan hewani, yakni perbuatan-perbuatan selain manusia, juga binatang bisa mengerjakannya. Karena Tian menetapkan hukum kodrat badan/jasmani adanya rasa lapar dan kantuk, agar manusia taat mengikuti kodratnya, ini sangat penting guna mempertahankan hidup manusia maupun binatang (survive).

Tetapi jika manusia makan dan tidur disertai dengan pengertian dan kehendak maka ini adalah perbuatan yang manusiawi. Dengan dibimbing oleh intelek dan kehendak sajalah baru bisa dikatakan perbuatan manusiawi. Memang hanya manusia saja satu-satunya makhluk yang memiliki ini.
Perbuatan manusia adalah suatu proses psikologis yang rumit penuh seluk beluknya. Terdapat permainan bersama antara intelek, kehendak dan Xing.

Supaya seseorang berbuat, haruslah terlebih dahulu ditarik oleh sesuatu yang baik. Apabila intelek mengerti sesuatu sebagai yang baik, muncullah kehendak rasa senang tentram dan mendorong rasa senang menjadi keinginan untuk memilikinya. Apabila intelek selanjutnya sebagai sesuatu yang dapat dikejar, diusahakan dan didapat, intelek menggerakkan kehendak untuk mengarah kepada yang baik itu. Ini baru proses dalam pikiran kita dan belum memikirkan bagaimana jalan yang perlu untuk mencapainya.

Intelek mengemban tugas mempertimbangkan berbagai jalan untuk bertindak/berbuat. Ini disebut sebagai pertimbangan yang akan menghasilkan keputusan terakhir. Tetapi sebelum bertindak manusia mendapat tanda-tanda sinyal dari Xing, bahwa tindakan/perbuatan yang telah diputuskan itu apakah sesuai dengan benih-benih kebajikan? Di sinilah letak perbedaan binatang dengan manusia. Manusia bukan hanya memiliki intelek dan kehendak saja, tetapi perintah-perintah dari dalam hati nurani agar suatu perbuatan harus mengikuti Xing, inilah baru disebut sebagai manusia yang bermoral, manusia manusiawi seutuhnya.
‘Dengan timbangan, kita tahu berat ringannya benda, dengan ukuran kta tahu panjang pendeknya suatu benda. Maka hanya dengan pikiran yang sungguh-sungguh, dapat mempertimbangkan sesuatu’
—Mengzi I A : 7 : 13
“... dan di antara semua makhluk, manusialah dikarunia kemampuan yang paling tinggi ...”
—Shijing V : I.A..3

Perbuatan kehendak ini mempunyai dua buah momentum; lebih memilih cara yang satu dari yang lain, maka perbuatan ini disebut pemilihan, atau pasrah menyerah kepada keputusan intelek beserta pemilihan jalannya, maka disebut persetujuan. Akhirnya saatnya pemakaian jalan yang telah dipilih dan menikmati tujuan yang telah tercapai.

Setiap perbuatan kehendak selalu didahului oleh suatu perbuatan intelek, dan yang terpenting adalah ‘pertimbangan’. Perlu diingatkan bahwa jangan memandang proses ini terlalu mekanis. Intelek dan kehendak hanyalah kemampuan yang melalui itu manusia sebagai satu keutuhan, berbuat. Adalah pribadi yang berbuat melalui kemampuan-kemampuannya dan kemampuan-kemampuan tersebut bukanlah seperti menggerakkan roda. Dan tidaklah perlu memandang setiap taraf itu sebagai perbuatan-perbuatan yang berbeda-beda. Semuanya itu bergerak cepat, erat bercampur, dan rumit seluk beluknya. Tetapi kita harus bisa membedakan antara perbuatan yang sengaja dan yang tidak sengaja yaitu perbuatan yang mendahului sebelum melalui pertimbangan, sebab hal inilah yang membuat suatu perbuatan adalah perbuatanku dalam arti aku dapat dituduh, dalam arti aku bertanggung jawab atas perbuatan itu.

Kehendak dapat dikontrol tidak hanya perbuatan-perbuatan sendiri saja, tetapi juga dapat mengontrol perbuatan-perbuatan dari kemampuan-kemampuan lain. Kehendak membuat keputusan, tetapi pelaksanaannya diserahkan pada kemampuan-kemampuan lain. Misal, kehendak memutuskan supaya berjalan. Kehendak harus memerintahkan otot kaki untuk melaksanakan keputusan itu dengan melaksanakan berjalan. Prosesnya sangat cepat sekali dan mekanismenya sangat kabur sehingga manusia tidak merasakan dan tidak mengerti bagaimana proses itu terjadi.

Kehendak memutuskan untuk berpikir, tetapi kehendak tidak bisa berpikir, maka kehendak memerintahkan intelek, kemampuan untuk mengerti, supaya mengarahkan perhatiannya kepada pikiran ini, bukan yang lain. Kehendak bisa memerintahkan diri sendiri kapan memutuskan, sekarang atau ditunda. Kehendak dapat memerintahkan perbuatan-perbuatan lahir dan perbuatan-perbuatan batin. Saya memutuskan belajar, keputusan ini adalah perbuatan kehendak, kehendak belajar. Saya mengambil buku, dan mengarahkan perhatian dan mata saya pada halaman-halaman buku tersebut dan semua ini adalah perintah kehendak atas perbuatan-perbuatan lahiriah. Saya konsentrasikan pada suatu bab tertentu, saya mengerti apa yang saya baca, dan memahatkan dalam ingatan saya, kehendak menghafal. Ini adalah perbuatan-perbuatan batin yang diperintahkan oleh kehendak.

Belajar adalah perbuatan campuran yang mencakup penggunaan mata untuk membaca dan intelek untuk mengerti, yang keduanya di bawah perintah kehendak. Hal ini menunjukkan bahwa suatu perbuatan yang ditimbulkan oleh kehendak. Maka apabila seseorang memutuskan mengerjakan sesuatu dengan persetujuan kehendak yang jelas, ini adalah suatu perbuatan yang sengaja dan ini sifat khas manusiawi. Kehendak manusia adalah kemampuan mengontrol dan bertanggung jawab akan segala sesuatu yang ia kontrol melalui kehendak baik perbuatan batiniah maupun lahiriah.

Perbuatan manusia Ru :

  • meneliti hakikat/belajar
  • pengertian/pengetahuan
  • tekad beriman/kehendak jujur/sukarela pada baik
  • lurus hati/terarah pada Xing
  • membina diri/perbuatan manusiawi lahiriah

(Lihat Ajaran Besar Bab Utama : 5)

Meneliti hakikat/belajar adalah suatu usaha memperoleh pengetahuan, dengan pengetahuan ini akan menjadi mengerti apa hakikat dari objek yang kita teliti itu. Kita telah tahu bahwa segala hal di muka bumi ini memiliki bentuk dan sifat, Bentuk dan sifat yang diciptakan Tian inilah yang disebut hakiki, artinya sesuai dengan kodratnya, dimana segala hal di muka bumi ini memiliki hukum-hukum tertentu yang tetap dan pasti, sepanjang masa, hukum itu berlaku abadi.
“Berlaksa benda (kemampuan sebagai kodrat) tersedia lengkap di dalam diri.”
—Kitab Mengzi VII A : 4
Kehendak yang jujur dan Tulus hati, yang karena intelek kita memahami yang hakiki, maka kehendak harus tulus hati dan jujur menerima pengertian dari intelek. Karena yang hakiki adalah kebenaran mutlak sesuai dengan Sang Pencipta, maka tidak bisa tidak kita harus menerima dengan suka rela/tulus hati pada hakikat kebenaran ini, inilah yang dimaksud dengan Tekad yang beriman.
Tekad beriman atau kehendak yang tulus hati/sukarela terarah kepada yang baik pada hakikatnya menyebabkan perbuatan yang manusiawi. Pengetahuan atau pengertian adalah syarat mutlak, tanpa itu, perbuatan manusia tidak dapat tulus hati/sukarela. Tanpa pengetahuan manusia tidak tertarik untuk berkehendak kepada apa yang baik.

Menerima pengetahuan tentang kebenaran sejati harus bersikap jujur, tulus hati dan sukarela menerima kenyataan yang hakiki ini.
“Adapun yang dinamai mengimankan tekad ialah tidak mendustai diri sendiri, yakni, sebagai membenci bau busuk dan menyukai keelokan.”
—Ajaran Besar VI : 1

Mengimankan tekad adalah kejujuran hati untuk menerima realitas kodrat dirinya sebagai manusia, bahwa manusia sesungguhnya suka kepada hal baik dan benci pada hal buruk. Ini adalah sifat umum manusia yang dikaruniakan Tian kepada manusia melalui Xing. Tekad beriman adalah kejujuran, ketulusan dan kesukarelaan pada sifat hakiki manusia ini. Semestinya sifat dasar manusia ini dikembangkan hingga menjadi kenyataan meraga di luar, bukan yang sebaliknya dengan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan sifat dasar ini. Inilah yang dimaksud dengan mengimankan tekad. Manusia Tidak boleh ‘memanipulasi’ hukum kodrat ini, jika ingkar, sama saja menentang Hukum Tian dan akan menerima konsekuensi-konsekuensinya, atau dalam bahasa agama disebut sebagai dosa. Salah satu saja hukum Tian yang dilanggar berdampak kepada seluruh jaringan badan dan jiwa manusia, langsung akan menerima akibatnya. Karena Hukum Tian itu adalah Maha menjalin.

Pengetahuan atau pengertian biasanya mendahului perbuatan kehendak karena tidak mungkin suatu hal dikehendaki tanpa diketahui lebih dahulu. Intelek mengusulkan sesuatu yang baik, dan kehendak mengarah ke hal tersebut. Tujuan juga tidak dapat dicapai tanpa menggunakan jalan yang cocok, dan kehendak itu buta tidak dapat melihat jalan yang cocok tersebut. Maka dibutuhkan pengetahuan guna mengerti, bukan hanya untuk tujuan saja tetapi juga untuk memilih jalan yang cocok ke arah tujuan, dan merencanakan macam-macam pengaturan perbuatan yang efisien. Tekad Kehendak adalah kemampuan buta, dan bukan kemampuan untuk mengerti dan tidak dapat berbuat kecuali diterangi oleh pengetahuan/pengertian.

Intelek harus memikirkan semuanya ini termasuk kesesuaian dengan Xing sebelum menyerahkan kepada kehendak untuk mendapat persetujuannya/keputusannya.

Aktivitas intelek nampak jelas dalam bentuk ‘pertimbangan’, dimana motif-motif pro dan kontra tidak bisa dipertimbangkan kecuali jika diketahui, maka pengetahuan sangatlah penting. Pikiran/intelek juga harus perhatian kepada yang akan dikerjakan, memusatkan perhatian pada perbuatan-perbuatan yang sedang dikerjakan supaya seseorang sadar akan perbuatannya. Dan untuk ada perhatian butuh perenungan sebelum mengambil keputusan, dengan demikian kita sadar bahwa kita sedang berbuat. Kita mengerti bahwa mengerti, mengerti karena kita menghendaki. Perbuatan manusiawi adalah perbuatan yang sadar bahwa kita mengerti.
Guru bersabda : “You (Zi Lu), Kuberi tahu apa artinya ‘mengerti’ itu. Bila mengerti berlakulah sebagai orang yang mengerti, bila tidak mengerti berlakulah sebagai orang yang tidak mengerti. Itulah yang dinamai : ‘mengerti’.
—Sabda Suci II : 17
Tekad beriman atau Kehendak yang Tulus hati. Supaya perbuatan kita manusiawi tidaklah cukup hanya dengan pengetahuan dan pengertian, tetapi harus juga ada kehendak. Dan kehendak kita harus secara sukarela mengikuti pengertian hasil penelitian/belajar bahwa yang hakiki adalah kodrat. Perlu kita hati-hati bahwa yang dimaksud dengan sukarela bukanlah sekedar mengikuti keinginan atau nafsu-nafsu, tetapi sukarela terhadap hasil dari penelitian hakikat

Agar perbuatan kita adalah perbuatan yang manusiawi, maka kehendak pun harus dikontrol, agar tidak melanggar kemanusiaan yang hakiki (Xing). Kita perlu lurus hati fokus pada benih-benih kebaikan yang ada di dalamnya. Lurus hati, adalah sesuai cocok dengan panggilan/perintah Tian. Jika kita tidak lurus hati maka perbuatan itu tidak bisa disebut sebagai perbuatan yang manusiawi. Dengan demikian perbuatan-perbuatan kita adalah perbuatan yang manusiawi jika sesuai dengan kodrat Tian. Pengertian fokus pada hati, atau lurus hati adalah hati yang hanya terarah pafa xing, sama sekali tidak terganggu oleh emosi perasaan manusia (qi qing), perlu diingat di dalam hati manusia juga ada nafsu dan keinginan-keinginan, maka hati kita harus pada tempatnya.

“Jika hati pada tempatnya, sekalipun melihat takkan tampat, meski mendengar takkan terdengar dan meski makan takkan merasakan.”
‘Inilah sebabnya dikatakan, bahwa untuk membina diri berpangkal pada melurus hati.”
—Ajaran Besar VII : 2 & 3

Karena sepanjang hidup kita harus terus menerus mengikuti proses tersebut di atas, maka proses ini dikatakan sebagai usaha Xiu Shen atau ‘membina diri’.

Suatu perbuatan yang disebut Tekad beriman adalah perbuatan yang sukarela berdasarkan penelitian hakikat yang merupakan kebenaran mutlak. Suatu kebenaran mutlak adalah kebenaran yang melekat pada manusia sebagai kodrat. Jika kodrat manusia wujudnya manusia maka semestinya sifat manusia pun harus sesuai dengan sifat kodrat kemanusiaannya, inilah yang dimaksud dengan suatu perbuatan yang mengikuti kodrat Tian. Dalam ajaran Ru ini disebut membina diri.

Penelitian hakikat menjadikan intelek kita berpengetahuan dan memiliki pengertian. Pengertian ini menuntun kehendak untuk tekad beriman, yang secara tulus hati mengikuti pengertian hasil penelitian hakikat dan kehendak harus menjaga agar tetap fokus pada benih-benih kebajikan didalam hati, atau harus lurus hati. Dan akhirnya kehendak memerintahkan otot anggota tubuh kita untuk melaksanakan perbuatan, yg disebut membina diri. Si pelaku berbuat dengan sukarela dan lurus hati, berarti si pelaku dengan pengertiannya menghendaki apa yang ia perbuat.

Di sini manusia mempunyai kebebasan kehendak, sekalipun memiliki pengertian tentang hakikat, tetapi dalam perjalanan proses di atas, manusia diberi kebebasan untuk memilih apakah fokus pada Xing atau tidak. Jika fokus pada Xing boleh disebut sebagai membina diri, jika tidak maka perbuatan semacam itu adalah perbuatan manusia secara umum dan bukan perbuatan ‘membina diri’. Karena perbuatan membina diri disebut sedang menempuh Jalan Suci. Yang hidup dalam Jalan Suci adalah mengarah pada tujuan akhir manusia, melalui sarana ketaatan pada Xing.

Sekalipun manusia disebut sebagai makhluk merdeka, sebenarnya apa yang dimaksud dengan kemerdekaan ini adalah kemerdekaan kehendak untuk memilih. Jika memilih untuk mengikuti Xing, disini manusia tidak lagi bebas untuk memilih yang lain. Namun dengan kemampuan pengertiannya kehendak ini diarahkan kepada yang hakiki, jadi sesungguhnya bagi umat Ru tidak memiliki kebebasan kehendak, karena ia punya batasan agar, ‘Menjaga hati memelihara Xing/watak sejati, sebagai bentuk pengabdian kepada Tian demi tercapainya kebahagiaan tertinggi’.
‘Jagalah hati, peliharalah Watak Sejati, demikianlah mengabdi pada Tian.
—Mengzi VII A : 1 : 2

Mengapa tujuan akhir manusia bergantung pada perbuatan kita?

Kebijaksanaan Tian melalui hukum-hukum Nya memberi kepastian melalui persyaratan karunia Nya pada manusia berupa sarana yang membantu manusia mencapai Tujuan akhirnya itu, sarana intelek, kehendak dan Xing, yang terwujud dalam perbuatan. Tian tidak akan memboroskan kebahagiaan kepada manusia yang tidak sepantasnya menerimanya.

Harkat martabat manusia menuntut bahwa manusia mencari tujuan terakhirnya dengan cara yang cocok dengan kodrat manusia yang berakal budi dan merdeka memilih jalan yang ditempuh. Apa sebenarnya Jalan Suci itu? Terdiri atas perbuatan manusiawi yang dengan sadar mengerti, berkehendak, mengontrol, fokus Xing, dan dengan sengaja menghendaki perbuatannya.

Proses psikologis memang sangat kompleks, karena menyangkut keinginan, maksud, pertimbangan, pemilihan, persetujuan, penggunaan, dan penikmatan. Titik yang menentukan adalah persetujuan kehendak mengikuti pertimbangan akal budi untuk memutuskan pada lurus hati, selanjutnya melaksanakan perbuatan. Karena itu umat Ru tidak boleh hanya berdasarkan keyakinan atau kepercayaan yang ngambang di awang-awang. Umat Ru wajib harus mempunyai keyakinan yang teguh terhadap HUKUM-HUKUM TIAN dan harus berusaha memahaminya, tanpa keyakian akan kebenaran Hukum Tian, belajarpun tidak akan teguh.
“Seorang Junzi, bila tidak mempunyai keyakinan benar (Kebenaran Hukum Tian), bagaimana ia mempunyai pendirian yang teguh?”
—Kitab Mengzi VI B : 12

Keyakinan seseorang dikarenakan ia sadar mengerti melalui pengetahuan hasil meneliti atau hasil belajar, sarananya adalah pikiran, maka perlu kita ketahui bagaimana proses berpikir dalam ajaran Ru. (bwt)

KOMENTAR

BLOGGER
Nama

GERBANG,56,KIBAR KABAR,15,LAYAK NGERTI,34,LORONG,37,NOT,1,PILIHAN,68,SANGGURDI,5,SEPATU,5,TOPI,21,TSN,56,TSUN,4,USL,46,VIDEO,24,YUHO,1,ZATH,1,ZBWT,9,ZEF,13,ZEVA,1,ZKG,20,
ltr
item
Genta Rohani: Manusia dan Perbuatan
Manusia dan Perbuatan
Tujuan terakhir kita bergantung pada perbuatan kita. Tercapainya tujuan terakhir kita baik subjektif maupun objektif bergantung kepada perbuatan kita dalam hidup di dunia ini. Ini adalah satu-satunya jalan yang paling sesuai dengan Perintah Tian dan harkat martabat manusia. Inilah tuntutan Tian, dan tidak bertentangan dengan akal sehat apabila kebahagiaan sempurna dimengerti oleh mereka yang memilikinya.
https://66.media.tumblr.com/d190f98286ce28dcc919368cdcb355d8/tumblr_o29dy6kyEn1ulyyjg_og_1280.jpg
Genta Rohani
https://www.gentarohani.com/2019/08/manusia-dan-perbuatan.html
https://www.gentarohani.com/
https://www.gentarohani.com/
https://www.gentarohani.com/2019/08/manusia-dan-perbuatan.html
true
9139491462367974246
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts LIHAT SEMUA Baca lebih Balas Batal Hapus Oleh Beranda PAGES POSTS View All Rekomendasi untuk Anda LABEL ARSIP CARI ALL POSTS Not found any post match with your request Kembali ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ menit lalu 1 jam lalu $$1$$ jam lalu Kemarin $$1$$ hari lalu $$1$$ minggu lalu lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN PREMIUM Harap SHARE untuk membuka kunci Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy