|TERBARU     /fa-fire/_$type=slider$sn=hide$cate=0$show=home$va=0$d=0$cm=0

Etika Konghucu (3)

Tulisan ini adalah bagian 3 dari 3 tulisan mengenai Etika Konghucu.
Diterjemahkan dari Rencana Kurikulum Buku Pelajaran Etika Konghucu Singapura.

Setya dan Tepasarira


diterjemahkan oleh: Chew Kong Giok   |   


GENTAROHANI.COM—Pada Kitab Lunyu tercatat kejadian sebagai berikut. 
Suatu hari, Guru berkata pada Zengzi: “Jalan Suciku hanya satu tetapi menembusi semuanya.” 
Zengzi menjawab: “Ya Guru.” 
Setelah Guru pergi, murid-murid yang lain bertanya: “Apakah yang dimaksud dengan kata-kata itu?” 
Zengzi berkata : “Jalan Suci Guru itu tidak lebih tidak kurang ialah Setya dan Tepasarira.”
—Lunyu IV : 15

Apa maksud dari Konghucu tentang. “Jalan Suciku hanya satu tetapi menembusi semuanya”? 

Beliau tidak bermaksud bahwa hanya ada satu prinsip moral yang ia jalankan, karena kita telah tahu Beliau mengajarkan kita lebih dari satu nilai penting. Apa yang Beliau maksudkan adalah bahwa dalam menjalankan semua prinsip dan nilai moral ia menggunakan satu dasar sikap dalam perbuatan moralnya yakni ‘Setya dan Tepasarira’. 

Tapi apa maksudnya ini ?

Pengamat ajaran Konghucu pada jaman dinasti Song, Zhu Xi menerangkan tentang hal itu. 

Setya adalah melakukan yang terbaik dari setya. 

Tepasarira adalah menempatkan diri sendiri ke dalam tempatnya orang lain. 

Untuk menjadi Setya adalah Ketulusan hati dan kita berusaha melakukan perbuatan yang terbaik semampu kita. Oleh sebab itu, sehubungan dengan Zhu Xi, pertama-tama sikap dasar yang penting kita miliki adalah sikap dan perasaan yang benar terhadap kehidupan yang bermoral. Bila kita setya dan memelihara hidup yang bermoral dan kita merasa teguh melakukannya, maka kita akan dapat melakukan semua, mempraktekkan nilai-nilai moralitas itu.

Yang kedua, hal ini berarti kita memakai suatu norma yang umum dalam pergaulannya dengan sesama. Di mana kita menggunakan diri kita sendiri sebagai suatu ukuran bagi tindakan kita terhadap orang lain, artinya memperhatikan sesama manusia sebanyak sebanyak seperti kita memperhatikan diri kita sendiri ke dalam ukuran mereka.

Kepentingan-kepentingan mereka maka menjadi kepentingan kita pula, supaya apa yang kita inginkan bagi diri kita sendiri juga kita inginkan bagi orang lain. Apa yang tidak kita inginkan, kita jangan diberikan pada orang lain juga. Dengan menggunakan perasaan seperti ini kita menggunakan diri sendiri sebagai suatu ukuran terhadap orang lain. Inilah yang dimaksud dengan memiliki sikap Tepasarira. Oleh karena itu sikap dasar Konghucu dalam kehidupan moral dilukiskan dengan dua syarat yakni : “Setya dan Tepasarira” . Marilah kita mendiskusikan apa yang dimaksud dengan kedua hal tersebut dalam detail yang lebih luas.

PERBUATAN TERBAIK SESEORANG - SETYA

Zhong 忠. Di sini diterjemahkan sebagai “Setya”, merupakan keyakinan dan kepercayaan penuh pada prinsip-prinsip kita, cita-cita kita, dan diri sendiri. Ini merupakan komitmen terhadap tanggung jawab dan pengabdian kita bagi perkembangan kepribadian kita. Ini berarti bahwa kita harus benar-benar serius dalam hal membina diri dan mutlak harus lurus hati pada diri kita sendiri. Kita sadar akan syarat-syarat dengan kelemahan-kelemahan kita dan mengerahkan sekuat tenaga kita dalam mengatasi kelemahan-kelemahan itu serta memperbaiki diri kita sendiri. Kita pun menyadari kekuatan-kekuatan kita. Kita jangan menetapkan suatu batas pada apa yang dapat kita lakukan atau terhadap perkembangan moral kita.

Andaikan saya mempunyai suatu tabiat yang sangat buruk, di mana sering membuat perpecahan dalam perjalanan pergaulan hidup saya dengan orang lain. Saya meminta maaf dan berkata: “Saya tak dapat menolongnya. Karena, ini merupakan sifat-sifat pembawaan saya”. Hal seperti ini bukanlah sifat ‘setya’.

Saya tidak adil dan tidak jujur terhadap diri saya sendiri. Seharusnya, daripada saya melakukan itu lebih baik saya mengontrol tabiat saya dan ingat kepada hal-hal yang sepantasnya yang perlu dilakukan.

Satu lagi andaikata para guru menunjuk saya sebagai pemimpin/ketua murid, karena tentu melihat kualitas-kualitas kepemimpinan yang ada pada diri saya. Tetapi saya merasa takut menghadapi tanggung jawab. Saya mundur dengan alasan sebagai berikut: “Saya harus konsentrasi pada pelajaran saya”. Ini bukanlah sikap ‘Setya’ juga. Saya seharusnya menerima tantangan itu dan mengembangkan bakat kepemimpinan yang saya miliki untuk mengabdi pada sekolah dan teman-teman.

Ambil contoh lain, Wang bekerja untuk seseorang yang senang mendengar pujian orang lain yang menyatakan bagaimana pandai dan hebatnya dia. Apabila Wang mau memuji pemimpinnya, maka ia akan diberi suatu kesempatan untuk naik pangkat yang lebih baik. Akankah ia melakukannya? Banyak dari teman-teman sekerjanya yang melakukan hal seperti itu. Apabila ia berbuat demikian berarti ia harus menyatakan segala sesuatu yang ia sendiri tidak mempercayainya. Ia tidak akan mendapatkan kebaikan bagi dirinya sendiri. Dalam situasi seperti ini, apa yang dapat kita lakukan? Kita sebaiknya hanya berbuat apa yang terbaik, melaksanakan tanggung jawab-tanggung jawab kita sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan kita. Suatu kenaikan pangkat yang kita peroleh harus didasarkan kepada jasa-jasa yang benar-benar layak dan bukan pada pada pujian-pujian yang tidak jujur.

Di sini kita melihat bahwa ‘Setya’ merupakan kesungguhan usaha diri sendiri dalam situasi maupun hubungan apa saja. Ini menyangkut tanggung jawab kepada apa yang kita lakukan.

Apakah kita bekerja untuk diri sendiri, teman-teman, seorang pegawai atau untuk Negara kita, kita seharusnya menuntut apa yang terbaik dari diri kita sendiri dan bertanya ‘Apa yang dapat kita lakukan bagi orang lain?’

Dari sikap ‘Sikap Setya’ ini timbul rasa tanggung jawab baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Jika kita merasa bertanggung jawab terhadap orang lain bagaimanakah kita seharusnya kita memperlakukan mereka?

Bagaimanakah sikap kita terhadap mereka?

Maka dari sini akan muncullah sikap ‘Tepasarira’.

MENGGUNAKAN DIRI SENDIRI MENGUKUR ORANG LAIN “TEPASARIRA”

Dalam berusaha mencoba melakukan yang terbaik bagi orang lain, adalah suatu peraturan umum untuk mengikutinya. Peraturan ini adalah menjalankan kedua aspek tersebut sebagai sikap dasar Konghucu dalam hidup bermoral.

Dalam berhubungan dengan orang lain seharusnya kita memandang kepentingan mereka, seolah-olah mereka adalah milik kita. Kita seharusnya memperlakukan mereka seperti memperlakukan diri kita sendiri. Dengan cara ini kita mengukur kepentingan mereka menurut kepentingan diri kita.
Maka ketika Zigong, salah seorang murid Konghucu, bertanya kepada Guru: “Adakah suatu kata yang dapat dijadikan tuntunan tingkah laku dalam hidup?” 
Guru menjawab : “Itulah TEPASARIRA,” kemudian dijelaskan, ‘Apa yang diri sendiri tidak diinginkan janganlah diberikan pada orang lain’. 
—Lunyu XV : 24

Beberapa contoh-contoh akan membantu lebih jelas tentang prinsip-prinsip ini. Kita akan merasa sakit hati apabila seseorang berbicara kasar pada kita karena tanpa ada alasan yang jelas. Maka kita juga seharusnya tidak berbuat hal yang sama terhadap orang lain. Kita tidak senang orang lain membuat gosip tentang diri kita. Maka seharusnya pula kita menghindarkan diri kita membuat gosip tentang mereka. Kita menghargai apabila ada seseorang yang datang memberikan pertolongan pada saat kita menghadapi kesulitan. Begitupun kita harus berbuat demikian apabila melihat orang lain yang membutuhkan pertolongan.

Ambil contoh lain, Karena kita tidak senang diperlakukan secara tidak jujur, maka seharusnya kita pun memeriksa perbuatan-perbuatan kita terhadap orang lain untuk menjamin supaya mereka berlaku jujur. Hal ini sangat penting terutama bila kita berada dalam suatu kedudukan sebagai pemimpin atau lebih tinggi/unggul dari yang lain. Dalam suatu posisi yang demikian, kita harus menjaga diri untuk tidak menyalahgunakan wewenang kita dan tidak menggunakan kekerasan kepada bawahan-bawahan kita. Sebaliknya kita harus berusaha mencari cara untuk memahami pendapat pandangan mereka dan perasaannya. Kita harus berpandangan luas, toleransi dan hati-hati. Inilah, apa yang dimaksud dengan tepasarira di dalam praktek.

SIKAP DASAR MORAL DALAM PRAKTEK

Dalam prakteknya kedua hal dari sikap dasar Konghucu itu menjadi saling berkaitan satu sama lain. Sebab tanpa adanya tepasarira tidak mungkin ada tanggung jawab moral dan kesetyaan serta musik, belum lagi membicarakan tentang lain-lainnya. Tanggung jawab dan kesetyaan harus menghasilkan tindakan dan perbuatan demikian termasuk cara perlakuan terhadap orang lain harus dengan Tepasarira.

Sebaliknya, tepasarira sesungguhnya bukan hanya mengikuti secara membabi buta saja terhadap peraturan/cara bertindak terhadap orang lain dengan sesuka hati kita. Sudah barang tentu, tindakan itu harus muncul dari hati dan pikiran yang tulus. Dimana di dalamnya harus disertai dengan rasa tanggung jawab dan kesetyaan. Oleh karena itu sikap dasar dari umat Konghucu hanya diringkas dengan istilah Zhong Shu 忠 恕 yang diterjemahkan sebagai “Setya dan Tepasarira”.

Marilah kita menjelaskan apa hasil praktek dari sikap ini yang disebut dengan diskusi salah satu bidang hubungan-hubungan manusia yang berkaitan dengan hal tersebut. Dalam Kitab Ajaran Besar (Daxue). Yang berkaitan dengan suatu hubungan yang mana sekarang kita menganggapnya sebagai hubungan antara atasan dengan bawahannya . Sikap tepasarira dalam tempat kerja berarti bahwa ‘Apa yang tidak disenangi seseorang dalam kepemimpinannya, jangan diperlihatkan dalam perlakuan kepada bawahannya, jangan diperlihatkan dalam pengabdiannya kepada pemimpinnya’.

Hal yang biasa bagi semua orang menggerutu di tempat kerjanya. Di antara para manajer atau pemimpin menggerutu kepada para bawahannya/pegawainya tentang sikap mereka yang tidak berguna atau tidak tahu terima kasih. Tetapi sebaliknya para pekerja/bawahan berkeluh kesah tentang ketidakadilan dan sikap menajer-manajer atau pemimpin-pemimpinnya yang bersikap keras dan suka marah. 

Sikap-sikap demikian membawa akibat timbulnya kesalahpahaman dan gesekan-gesekan. Konghucu menasehatkan ke dua kelompok manusia itu bahwa seharusnya menunjukkan sikap tepasarira dengan tidak berbuat kepada kelompok lain, apa yang dalam kelompoknya sendiri tidak disenangi. Jadi para manajer atau pemimpin seharusnya memperlakukan bawahannya atau para pekerjanya seperti mereka sendiri menyukai para atasannya memperlakukan mereka. 

Demikian pula halnya para pekerja seharusnya memperlakukan atasan-atasannya dengan cara seperti mereka menyukai perlakuan para pekerja junior terhadap mereka. Apabila kedua kelompok itu mengikuti kebijaksanaan ini, yaitu : Setya dan Tepasarira, maka masing-masing kelompok akan dapat memahami perasaan-perasaan, pandangan dan pendapat satu sama lain. Dengan cara ini sikap dan tindakan akan lebih serasi, saling mencintai dan saling percaya pun akan dapat lebih diperbaiki.

Dalam suatu tempat bekerja, kita merasakan manfaatnya dengan memberikan perhatian khusus di bidang hubungan antara atasan dan bawahan ini. Sebab masalah-masalah yang ada di bidang ini biasanya akan lebih sulit dibandingkan di bidang lainnya. Sikap yang sama sudah tentu harus digunakan pula dalam hubungan antara mereka yang sederajat/setingkat dalam suatu tempat kerja. Hubungan antara mereka yang sederajat/setingkat jauh lebih mudah mempraktekkannya untuk dapat saling mengerti satu sama lain dengan lebih baik, karena dalam hal ini mereka memikul tugas dan kewajiban yang sama dan keadaan yang sama pula.

Bagi para pelajar mungkin berpikir karena belum bekerja untuk mencari nafkah/mata pencaharian, maka contoh diatas mungkin dianggap tidak relevan. Tetapi bukankah dalam pergaulan social kita harus saling berhubungan antara atasan dan bawahan, dan dengan yang sederajat sama, dalam setiap bidang kehidupan masyarakat?

Sebagai contoh, di sekolah kita berhubungan dengan para guru, pemimpin pelajar (Ketua kelas) dan juga sesama teman-teman sekelas. Dalam semua hubungan-hubungan kita dengan yang lain-lain—apakah sebagai atasan, bawahan atau sederajat/setingkat—kita harus bersikap Setya dan Tepasarira dengan cara mengadakan diskusi. Selanjutnya tiap-tiap kelompok akan cocok, satu sama lain saling bersikap mencintai dan tindakan-tindakan yang baik budi. Hasilnya kita akan menjadi sekelompok pribadi-pribadi yang sejati —yang oleh Konghucu ditunjukkan sebagai apa yang disebut ‘Cinta Kasih’.

IKHTIAR

  • Sikap dasar Konghucu adalah “Setya dan Tepasarira”
  • Setya meliputi tanggung jawab moral, Tulus Hati dan Ketetapan Hati untuk berbuat yang terbaik dari seseorang dalam kehidupan bermoral
  • Dengan Setya dan Tanggung Jawab, akan timbul sikap Tulus Hati dan Pendirian yang Teguh dalam mengambil keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan moral.
“Setya menimbulkan rasa tanggung jawab baik terhadap diri kita sendiri maupun terhadap orang lain."
  • Dengan “Tepasarira”. Bukan hanya kita supaya jangan melakukan perbuatan kepada orang lain apa yang tidak disukai diri kita sendiri, tetapi juga kita akan melakukan perbuatan terhadap orang lain apa yang disukai diri kita sendiri. (bwt)


KOMENTAR

BLOGGER
Nama

GERBANG,68,KIBAR KABAR,15,LAYAK NGERTI,49,LORONG,50,NOT,1,PILIHAN,96,SANGGURDI,7,SEPATU,8,TOPI,23,TSN,66,TSUN,4,USL,66,VIDEO,30,YUHO,1,ZATH,1,ZBWT,13,ZEF,22,ZEVA,1,ZKG,28,
ltr
item
Genta Rohani: Etika Konghucu (3)
Etika Konghucu (3)
Tulisan ini adalah bagian 3 dari 3 tulisan mengenai Etika Konghucu.
Diterjemahkan dari Rencana Kurikulum Buku Pelajaran Etika Konghucu Singapura.
https://cdn.pixabay.com/photo/2017/03/31/07/31/lessons-2190599_1280.jpg
Genta Rohani
https://www.gentarohani.com/2021/06/etika-konghucu-3.html
https://www.gentarohani.com/
https://www.gentarohani.com/
https://www.gentarohani.com/2021/06/etika-konghucu-3.html
true
9139491462367974246
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts LIHAT SEMUA Baca lebih Balas Batal Hapus Oleh Beranda PAGES POSTS View All Rekomendasi untuk Anda LABEL ARSIP CARI ALL POSTS Not found any post match with your request Kembali ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ menit lalu 1 jam lalu $$1$$ jam lalu Kemarin $$1$$ hari lalu $$1$$ minggu lalu lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN PREMIUM Harap SHARE untuk membuka kunci Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy