|TERBARU     /fa-fire/_$type=slider$sn=hide$cate=0$show=home$va=0$d=0$cm=0

Pandemi: Ketaatan, Empati, dan Kemanusiaan

oleh: Uung Sendana Linggaraja     |      GENTAROHANI.COM— Kawan saya beberapa bulan yang lalu menertawakan karena saat bertemu dengannya...


oleh: Uung Sendana Linggaraja   |   


GENTAROHANI.COM—Kawan saya beberapa bulan yang lalu menertawakan karena saat bertemu dengannya untuk suatu urusan, saya mengikuti protokol kesehatan ketat. 

Saya menolak saat dia akan berkunjung ke rumah. Saya dan kawan akhirnya sepakat bertemu di depan minimarket dekat rumah di Jakarta. Kami mengobrol sambil berdiri dan saat mengobrol saya jaga jarak serta menggunakan masker, sedangkan dia menggunakan masker di dagu.

Sore hari ini saya menelpon dia yang disinyalir terkena COVID-19 karena gejala-gejalanya menunjukkan COVID-19 tapi saat dites antigen hasilnya negatif. Dia tidak melakukan tes PCR entah mengapa.

Sambil tertawa kecil menertawakan dirinya sendiri, melalui whatsapp call dia berkata,
"Dulu saya menertawakan Pak Uung karena pakai masker dan ikut protokol kesehatan secara ketat, padahal cuma mau bertemu sebentar. Sekarang saya melakukan hal yang sama."

Dia merasakan sendiri ternyata penyakit COVID-19 itu sungguh tidak enak. Walau dia masih bisa mencium bau, saat minum air terasa pahit, kondisi badan serba tidak enak, batuk terus menerus dan terasa sesak. Proyek yang ditanganinya tentu saja terkendala oleh kondisi ini.

Sekarang keadaannya sudah relatif membaik tinggal batuk sesekali. Namun, dua sahabatnya yang sering pergi bersama dan menangani proyek yang sama, dalam waktu bersamaan terpapar COVID-19 tak dapat bertahan, dua-duanya meninggal dunia. Dua-duanya tidak tertangani dengan baik, mungkin agak sedikit menganggap enteng sehingga terlambat.

Hingga hari ini masih ada orang yang tidak percaya adanya wabah COVID-19 padahal sekarang pandemi merebak demikian cepat.

Dulu kawan saya terkesan menganggap enteng COVID-19, hingga akhirnya dia dan orang-orang terdekatnya merasakan sendiri akibat paparan virus corona yang terus bermutasi ini. Dia sadar bahwa keliru menganggap enteng pandemi ini dan tidak taat protokol kesehatan. Mungkin orang-orang yang masih tidak percaya tersebut harus mengalami hal yang sama seperti kawan saya? Sungguh harga yang mahal kalau harus begitu.

Pandemi ini nyata terjadi.

Satu tahun lalu saya hanya mendengar COVID-19 di kejauhan. Beberapa bulan lalu relasi saya mulai ada yang terpapar. Beberapa minggu terakhir beberapa kawan saya terpapar. Satu-dua minggu belakangan beberapa anggota keluarga saya terpapar. Itulah yang saya alami. Kawan dan relasi saya mengalami hal yang sama. Mungkin Anda merasakan hal yang sama.

Dalam situasi yang terasa semakin mencekam, penimbunan barang dan obat masih dan terus saja terjadi. Kejadian seperti ini terus terulang dalam berbagai krisis.

Bagi saya, penimbunan adalah tindakan tidak berperikemanusiaan dan tidak adanya empati. Bahkan penimbunan dengan motif untuk mengeruk keuntungan adalah tindakan kejahatan yang perlu ditindak secara hukum. Negara melalui penegak hukum tak perlu ragu melakukan tindakan.

Kalau Anda pernah melakukan penimbunan karena panik, apalagi untuk mengeruk keuntungan, sebaiknya jangan diulangi. Ingat segala sesuatu di dunia ini saling terhubung. Apa yang datang darimu akan kembali padamu begitu kata Mengzi.

Bila seandainya saat Anda atau keluarga Anda sangat membutuhkan obat atau produk dan ternyata obat atau produk yang Anda butuhkan tidak ada di pasaran karena ada yang menimbun, lalu Anda atau keluarga Anda terdampak negatif karenanya, apa kira-kira yang Anda rasakan? 

Bagaimana kalau ketiadaan tersebut menyebabkan cedera berkepanjangan? 

Bagaimana kalau ketiadaan tersebut menyebabkan kematian? 

Apakah Anda pernah memikirkannya?

Sebagai orang beragama dan warganegara yang baik, seyogianya Anda dan saya terus mengedepankan empati dan perikemanusiaan, serta percaya dan taat pada anjuran pemerintah dan hukum.

Anda mau? (bwt)


KOMENTAR

BLOGGER
Nama

GERBANG,73,KIBAR KABAR,15,LAYAK NGERTI,50,LORONG,53,NOT,1,PILIHAN,104,SANGGURDI,7,SEPATU,8,TOPI,23,TSN,71,TSUN,4,USL,69,VIDEO,30,YUHO,1,ZATH,1,ZBWT,13,ZEF,23,ZEVA,1,ZKG,28,
ltr
item
Genta Rohani: Pandemi: Ketaatan, Empati, dan Kemanusiaan
Pandemi: Ketaatan, Empati, dan Kemanusiaan
https://cdn.pixabay.com/photo/2020/01/29/13/47/connection-4802578_1280.jpg
Genta Rohani
https://www.gentarohani.com/2021/07/pandemi-ketaatan-empati-dan-kemanusiaan.html
https://www.gentarohani.com/
https://www.gentarohani.com/
https://www.gentarohani.com/2021/07/pandemi-ketaatan-empati-dan-kemanusiaan.html
true
9139491462367974246
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts LIHAT SEMUA Baca lebih Balas Batal Hapus Oleh Beranda PAGES POSTS View All Rekomendasi untuk Anda LABEL ARSIP CARI ALL POSTS Not found any post match with your request Kembali ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Min Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des baru saja 1 menit lalu $$1$$ menit lalu 1 jam lalu $$1$$ jam lalu Kemarin $$1$$ hari lalu $$1$$ minggu lalu lebih dari 5 minggu lalu Followers Follow KONTEN PREMIUM Harap SHARE untuk membuka kunci Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy